LIPI Pasang EWS di Desa Clapar

- Kamis, 21 Desember 2017 | 07:54 WIB
CEK EWS: Kalak BPBD Banjarnegara, Arief Rahman (tengah) memeriksa alat early warning system (EWS) yang baru saja dipasang LIPI di Desa Clapar, Kecamatan Madukara.(suaramerdeka.com/M Syarif SW)
CEK EWS: Kalak BPBD Banjarnegara, Arief Rahman (tengah) memeriksa alat early warning system (EWS) yang baru saja dipasang LIPI di Desa Clapar, Kecamatan Madukara.(suaramerdeka.com/M Syarif SW)

BANJARNEGARA, suaramerdeka.com - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memasang alat deteksi dini gerakan tanah atau early warning system (EWS) di area eks mahkota longsoran Desa Clapar, Kecamatan Madukara, Rabu (20/12). Ini merupakan alat ketiga yang dipasang setelah sebelumnya dipasang di Pengalengan, Kabupaten Bandung dan di sekitar jembatan Cisomang pada ruas tol Cipularang untuk memantau kondisi jembatan tersebut.

"Ada beberapa kelebihan alat ini dibanding EWS pada umumnya. Antara lain dapat memperkirakan terjadi gerakan tanah pada zona tertentu berdasarkan data dari berbagai alat sensor yang ditanam di lokasi yang dinilai rawan,'' kata Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Dr Eko Yulianto.

EWS yang sudah dipasang sebelumnya di beberapa lokasi rawan longsor di Kabupaten Banjarnegara, memberi peringatan ketika terjadi gerakan tanah. Namun EWS yang dikembangkan LIPI dapat dikatakan selangkah lebih maju karena dapat memprediksi atau memperkirakan akan terjadi gerakan tanah di zona tertentu berdasarkan analisis data yang dikirim perangkat sensornya. Keuntungannya masyarakat akan punya waktu antisipasi lebih panjang bila memaksimalkan fungsi alat tersebut. ''Jadi ini dapat memprediksi akan terjadi gerakan tanah sehingga persiapannya akan lebih dini,'' ujarnya.

Perangkat yang dipasang untuk satu paket EWS LIPI di Clapar yang disebut LIPI WISE-LAND (Wireless Sensor Network for Landslide Monitoring), terdiri atas enam unit tilt meter yang berfungsi mengukur perubahan kemiringan lereng. Kemudian empat unit ekstenso meter untuk mengukur pergeseran tanah, dua sensor kadar air, satu unit alat takar hujan dan satu gateaway.

Peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Adrin Tohari, mengatakan tiap sensor akan mengirim data ke gateaway atau server yang selanjutnya dikirim ke LIPI atau dapat pula dibaca atau dianalisis di lokasi penempatan EWS tersebut. Karena dari gateaway dapat diperoleh data grafis maupun tabel secara real time.

Kalak BPBD Banjarnegara, Arief Rahman, menyambut baik penelitian dari LIPI berikut pemasangan EWS yang dapat dikatakan lebih canggih. Oleh karena itu ia berpesan kepada pemerintah desa dan warga Clapar untuk merawat alat tersebut karena fungsinya sangat vital bagi keselamatan masyarakat dari ancaman potensi bencana tanah longsor. ''Supaya alat ini dapat berfungsi baik dan awet dan manfaatnya dirasakan dalam waktu lama, masyarakat harus menjaga dan merawatnya. Jangan dirusak atau dibiarkan terkena gangguan,'' katanya.

 

Editor: Andika

Terkini

PPKM Level 3 Batal, DIY Tetap Perketat Pengawasan

Rabu, 8 Desember 2021 | 10:36 WIB

PKS: Kitab Kuning Pondasi Pembangunan Peradaban

Senin, 6 Desember 2021 | 12:03 WIB

Komunitas Save Pekalongan Bantu Warga Terdampak Rob

Senin, 6 Desember 2021 | 09:12 WIB
X