Konflik Wadas, Fatayat NU Jateng Dampingi Ibu dan Anak yang Alami Trauma 

- Selasa, 15 Februari 2022 | 14:11 WIB
Fatayat NU Jateng Dampingi Ibu dan Anak Yang Alami Trauma Konflik Wadas (suaramerdeka.com/dok)
Fatayat NU Jateng Dampingi Ibu dan Anak Yang Alami Trauma Konflik Wadas (suaramerdeka.com/dok)


PURWOREJO, suaramerdeka.com - Akibat konflik di Desa Wadas, Purworejo menyebabkan ibu-ibu dan anak- anak mengalami trauma atau ketakutan.

Guna membantu memulihkan rasa trauma dan takut itu, Fatayat NU Jawa Tengah melakukan pendampingan serta memberikan bantuan berupa sejumlah alat permainan anak, obat-obatan dan vitamin kepada ibu-ibu dan anak-anak di Desa Wadas.

Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Tengah, Tazkiyyatul Muthmainnah mengatakan kedatangan Fatayat NU memang lebih pada melihat bagaimana perkembangan dan kondisi perempuan dan anak pasca kejadian kemarin.

Baca Juga: 7 Weton Ini Moncer di Tahun 2022, Punya Mustika Penarik Rezeki, Bakal Kaya Raya Sampai Tua

"Karena kami Fatayat NU memang concern pada perlindungan anak dan perempuan, jadi kami ingin anak-anak tidak mengalami trauma," kata Ketua PW Fatayat NU Jateng, yang juga sebagai anggota Komisi E DPRD Propinsi Jawa Tengah, Tazkiyyatul Muthmainnah, bersama Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Purworejo, yang juga sebagai anggota DPRD Kabupaten Purworejo, Rr Nurul Komariyah," Senin, 14 Februari 2022.

Tazkiyyatul mengungkapkan saat ini kondisi anak-anak sudah mulai pulih. Namun jika nanti diperlukan kami akan menyiapkan tim dari psikolog dan tim trauma healing untuk membantu anak-anak ini ceria kembali.

"Saya sangat berharap setiap jengkal tanah di Jawa Tengah harus memberikan rasa aman untuk anak- anak. Jadi jangan lagi ada kekerasan sehingga anak- anak bisa tetap ceria, tetap bahagia, bisa tumbuh kembang dengan baik untuk masa depan Indonesia," tegasnya.

Baca Juga: Pemilik Shio Ini Bakal Diguyur Hujan Rejeki di Tahun Macan Air Imlek 2022, Cek Shiomu!

Tazkiyyatul berharap kedepan tidak ada lagi konflik yang terjadi di Desa Wadas.

Menurutnya setiap permasalahan tidak harus diselesaikan dengan kekerasan, melainkan dengan cara duduk bersama secara musyawarah untuk mencari solusi dan kesepakatan bersama demi kebaikan warga.

"Ono rembug yo dirembug, kekerasan dengan alasan apapun tidak dibenarkan, baik kekerasan fisik maupun kekerasan psikis. Yang saya lihat yang terjadi disini kan anak- anak mengalami kekerasan psikis, bisa jadi karena mereka bener- bener ketakutan atau framing yang dibentuk oleh orang- orang dewasa sehingga mereka menjadi merasa ketakutan," ungkapnya.

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X