Pertumbuhan Ekonomi Rendah, Pelaku Wisata Perlu Pendampingan

- Minggu, 5 Desember 2021 | 10:08 WIB
pelaku wisata butuh pendampingan di tengah pertumbuhan ekonomi yang rendah dalam rangka menggerakkan pariwisata. (foto: pikiran rakyat)
pelaku wisata butuh pendampingan di tengah pertumbuhan ekonomi yang rendah dalam rangka menggerakkan pariwisata. (foto: pikiran rakyat)

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Dampak pandemi Covid-19 memengaruhi tingkat kemiskinan di Yogyakarta. Hal itu terjadi karena pertumbuhan ekonomi yang rendah serta adanya kontraksi yang turun secara tajam pada sektor wisata.

Melihat permasalahan tersebut Persatuan Insinyur Indonesia (PII) wilayah Yogyakarta berinisiatif melakukan gotong royong untuk membantu menggerakkan inovasi industri wisata yang dibahas dalam acara Jagongan Jogja Seri 1 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Oleh sebab itu apa yang dilakukan PII ini perlu kerja sama mengatur langkah konkrit melalui pendampingan bagi pelaku wisata.

Baca Juga: Berwisata di Pantai Widuri Pemalang, Pengunjung Divaksin di Gerai Si Sambar

Hal itu disampaikan Ketua PII DIY, Ir Tribudi Utama MT.

Diakuinya, sektor yang paling terpukul di masa pandemi Covid-19 adalah pariwisata, dengan segala turunannya yaitu sektor akomodasi, makanan, dan perjalanan.

''Komitmen insinyur untuk memberikan pengaruh positif di lingkungan DIY, sehingga perlu adanya kontribusi yang nyata. Perlu kerja sama mengatur langkah konkrit mengembangkan destinasi wisata khususnya di daerah Gunung Kidul dan Kulon Progo pasca pandemi. Langkah konkrit ini dilakukan melalui pendampingan PII DIY kepada destinasi-destinasi wisata pilihan,'' ujar Tribudi.

Baca Juga: Pemerintah Pusat Diminta Tak Asal Beri Izin Penambang, Ganjar: Pemda yang Terkena Dampak Kerusakan Lingkungan

Ia mengatakan alasan sektor wisata menjadi target selain faktor dampak pandemi juga hal tersebut selaras dengan visi pembangunan DIY  tahun 2025.

Sektor wisata menjadi andalan yang menghadirkan banyak sekali potensi wisata.

Profesi insinyur ingin hadir sebagai pemecah masalah dan dapat memberikan solusi dalam berbagai bidang seperti misalnya pada bidang teknik industri yang dituntut tidak hanya memahami sisi teknikal tetapi juga sisi manajemen termasuk di antaranya industri pariwisata.

Baca Juga: Akun Twitter Siskaee Lenyap, Ada Apa?

Sementara itu Kepala Bappeda Kulon Progo, Triyono SIP MSi pada kesempatan itu mengungkapkan pertumbuhan ekonomi DIY di masa pandemi mengalami penurunan drastis yaitu -2,69 persen.

Pertumbuhan ekonomi di Kulon Progo pada tahun 2020 sebesar -4,06 persen jauh lebih rendah dibandingkan realisasi tahun 2019 sebesar 13,49 persen.

Perkembangan ini sejalan dengan perekonomian nasional yang juga terkontraksi sebesar 2,07 persen pada tahun 2020 dan pertumbuhan ekonomi DIY sebesar -2,69 persen.

Baca Juga: Jelang Nataru, Komisaris Utama Pertamina Patra Niaga Tinjau Kesiapan BBM dan LPG

''Pandemi Covid-19 berdampak luar biasa yang mempengaruhi aktivitas ekonomi masyarakat hingga tergolong status jatuh miskin. Kami coba untuk mencari peluang dari pengembangan dan pembangunan Bandara Yogyakarta International Airport untuk meningkatkan perekonomian masyarakat salah satunya melalui sektor wisata. Namun, kendala dalam pengembangan ekonomi baru selain terhalang pandemi juga terkait kebijakan tata ruang,'' paparnya.

Editor: Nugroho Wahyu Utomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Gelar Haul Gus Dur, PKB dan NU Cilacap Berkolaborasi

Kamis, 13 Januari 2022 | 11:48 WIB
X