Leye dan Generasi Ketiga di Lipursari (2-habis) : Sasar Generasi Milenial, Diolah Jadi Tiwul Instan

- Senin, 22 November 2021 | 21:37 WIB
 MENJEMUR TEPUNG: Siti Maryam menjemur tepung dari ubi kuning untuk diproduksi sebagai bahan tambahan tiwul instan di rumahnya, Desa Lipursari Kecamatan Leksono, Kabupaten Wonosobo. (suaramerdeka.com/Hartatik)
MENJEMUR TEPUNG: Siti Maryam menjemur tepung dari ubi kuning untuk diproduksi sebagai bahan tambahan tiwul instan di rumahnya, Desa Lipursari Kecamatan Leksono, Kabupaten Wonosobo. (suaramerdeka.com/Hartatik)

Budaya mengonsumsi leye (nasi dari singkong) sebagai pengganti nasi dari beras di Desa Lipursari, Kecamatan Leksono, Kabupaten Wonosobo mampu bertahan hingga tiga generasi. Ditengah dominasi pangan nasional dan global yang terus menguat.

MENDUNG menggelayut petang itu, tidak menyurutkan semangat Siti Maryam (55) mengeringkan tepung dari aneka jenis umbi di lantai dua tempat tinggal sekaligus rumah produksi tiwul “Mari” di Dusun Pasunten, Desa Lipursari. Berkali-kali, ia membolak-balik butiran tepung berwarna putih, kuning dan ungu sesuai jenis umbi yang diolah, agar cepat kering.

“Saya sedang bereksperimen mengolah porang agar bisa menjadi bahan tambahan tiwul (instan). Tiwul yang diproduksi selain dari singkong, ada ubi madu, ubi kuning dan ubi ungu,” ujar wanita yang akrab disapa Maria Bo Niok ini.

Butuh 13 tahun, Maria mengubah image leye dan tiwul yang sebelumnya dianggap sebagai makanan “ndesa” atau menu orang pinggiran, menjadi makanan berkelas dan memiliki nilai jual tinggi.

Baca Juga: Hellbound Pecahkan Rekor Squid Game, Trending 24 Negara Sehari Setelah Rilis

Kini leye-tiwul pun tak lagi tradisional, namun diolah menjadi makanan instan. Bahkan harga tiwul instan tiga kali lipat lebih mahal, dibanding harga beras di desa itu Rp 10.000/kg. Untuk kemasan paling kecil yakni 400 gram, Maria menjualnya Rp 12 ribu. Sedangkan kemasan curah 1 kilogram dan 2 kilogram masing-masing dijual Rp 30 ribu dan Rp 50 ribu.

Menurutnya, sebelum tahun 1980, makanan pokok masyarakat Desa Lipursari adalah singkong. Sebagian besar petani di desa itu memang membudidayakan singkong. Singkong dikonsumsi masyarakat setelah diolah menjadi leye atau oyek, bahkan hingga kini.

Maria terinspirasi mengolah leye menjadi tiwul instan, karena prihatin dengan hasil panenan petani singkong yang dihargai murah oleh tengkulak, kisaran Rp 200 hingga Rp 700 per kilonya. Apalagi tanaman singkong ini selalu ada sepanjang musim.

Baca Juga: Kumpulan Link Twibbon Hari Guru Nasional 25 November 2021, Simak Cara Memakainya!

Lalu singkong dari petani diberi harga yang layak, yakni Rp 2.000/kg. Sontak saja puluhan petani berbondong-bondong menawarkan singkong.

“Ada (petani) yang telpon kalau mau kirim 4 ton gaplek kering, katanya dibayar kalau sudah ada uang nggak masalah. Tahu-tahu besok barangnya sudah ada di depan rumah, mau ditolak ya kasihan,” ujarnya sembari tertawa.

Dalam menjalankan usahanya itu, Maria tidak sekedar mengambil bahan baku singkong dari petani. Tapi ia juga mengedukasi mereka dengan membentuk kelompok tani Martani, yang beranggotakan 20 orang petani singkong.

Selain memberdayakan petani, mantan buruh migran ini mencarikan akses bantuan alat produksi hingga ke provinsi. Dan petani yang biasanya menyetor singkong, sebagian ada yang sudah mengolahnya dalam bentuk gaplek, leye, tepung mokaf hingga tiwul. Olahan singkong ini memudahkan dalam produksi tiwul instan.

Baca Juga: K-Netz Bahas Cordi BTS, Celana Pendek Jimin jadi Sorotan

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pengurus Cabang IAKMI Se-Jateng Dilantik

Sabtu, 4 Februari 2023 | 15:45 WIB
X