Unicef Fasilitasi Penanggulangan Tengkes di Kabupaten Tegal

- Minggu, 6 Juni 2021 | 18:38 WIB
Ilustrasi Stunting. Foto: Kominfo
Ilustrasi Stunting. Foto: Kominfo

TEGAL, suaramerdeka.com – Pemerintah Indonesia menargetkan penurunan prevalensi anak balita penderita tengkes atau stunting dari 27,6 persen pada 2019 menjadi 14 persen pada 2024.

Dengan demikian, penanganan penderita tengkes (stunting) atau tumbuh kerdil akibat malnutrisi sangatlah diperlukan.

Hal ini terungkap saat Nutrition Officer United Nations Children’s Fund (Unicef) Field Office Java Karina Widowati menyampaikan paparannya di Gedung Dadali, Kantor Pemkab Tegal, Jumat belum lama ini.

Karina mengatakan, terhambatnya pertumbuhan anak akibat tengkes akan berdampak pada tingkat kecerdasan, kesehatan, hingga produktivitas bangsa.

Baca Juga: Panglima TNI: Penegakan Prokes Jadi Kunci Utama Pencegahan Covid-19

Pendeknya tinggi badan dibandingkan standar umurnya menunjukkan otak dan sel tubuh yang tidak berkembang optimal. Persoalan cenderung sulit diperbaiki saat anak sudah menginjak usia dua tahun atau lebih.

Menurut Karina, kondisi tengkes dapat disebabkan oleh banyak faktor, seperti ekonomi keluarga, penyakit atau infeksi, hingga lingkungan.

“Penanggulangan stunting menjadi fokus pemerintah dalam upayanya membangun sumber daya manusia yang berkualitas. Berbagai cara terus dilakukan agar anak Indonesia tidak terganggu proses tumbuh kembangnya,” kata Karina.

Berkenaan dengan itu, strategi penanganan nasional yang serius perlu dilakukan, yaitu melalui intervensi gizi spesifik seperti pemberian tablet tambah darah (TTD) untuk remaja putri, suplementasi TTD untuk ibu hamil dan pemberian makanan tambahan (PMT) untuk ibu hamil kekurangan energi kronis.

Baca Juga: Kasus Capai 114.460, India Bersiap Longgarkan Penguncian Covid-19

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Terkini

X