Ikhtiar Warga di Kaki Gunung Kamulyan Menyelamatkan Mata Air

- Sabtu, 23 Oktober 2021 | 17:04 WIB
MENGECEK SUMUR: Warga Desa Bismo Kecamatan Blado, Kabupaten Batang secara berkala membersihkan sumur resapan dari sedimentasi lumpur maupun sampah dedaunan yang ikut hanyut bersama air hujan.(suaramerdeka.com/Hartatik)
MENGECEK SUMUR: Warga Desa Bismo Kecamatan Blado, Kabupaten Batang secara berkala membersihkan sumur resapan dari sedimentasi lumpur maupun sampah dedaunan yang ikut hanyut bersama air hujan.(suaramerdeka.com/Hartatik)

BATANG, suaramerdeka.com - Di balik Gunung Kamulyan, sisi selatan Kabupaten Batang tersimpan kearifan lokal masyarakat yang menghuni Desa Bismo, Desa Keteleng dan Desa Tambakboyo. Tanpa pamrih, mereka ikhlas menjaga dan merawat kelestarian mata air yang menjadi sumber air bersih bagi masyarakat di perkotaan, meskipun mereka bukan sebagai penerima utama manfaatnya.

Meski nyata, perubahan iklim global dirasa jauh dari pemahaman Neman Surono (49) yang tinggal di Desa Bismo Kecamatan Blado, Kabupaten Batang. Namun ia bisa merasakan  bahwa lingkungan tempat tinggalnya tidak lagi seperti beberapa dekade yang lalu.

"Awal 2014 terjadi kemarau panjang di desa kami, sehingga debit mata air Bismo mengecil. Selain PDAM, mata air ini dimanfaatkan oleh warga Desa Bismo dan Desa Keteleng." ujar mantan Kepala Desa Bismo ini.

Berdasarkan laporan dari Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Mineral Jateng, debit mata air Bismo mengalami penurunan signifikan dikarenakan perubahan iklim dan alih fungsi lahan. Meski pada musim hujan daerah di sekitar mata air itu kebanjiran, namun pada musim kemarau justru mengalami kekeringan yang luar biasa.

Menurut Neman, secara filosofi identitas Desa Bismo adalah air, karena di sini terdapat mata air yang bernama Tuk Bismo yang justru dimanfaatkan oleh masyarakat di Desa Keteleng. Selain itu, juga dimanfaatkan sebagai sumber air minum yang dikelola oleh PDAM Kabupaten Batang, guna memenuhi 40 persen dari total kebutuhan pelanggan (44.000 SR) di wilayah perkotaan, dengan rata-rata produksi 240 liter/detik.

Lokasi sebaran sumur resapan di sekitar Mata Air Bismo (suaramerdeka.com/Dok IUWASH)

"Mata air ini juga dikeramatkan dan menjadi tujuan wisata religi sampai sekarang."

Tak hanya itu, bagi masyarakat Desa Bismo, dan dua desa tetangga yakni Keteleng serta Tambakboyo, mata air merupakan khasanah lingkungan. Bukan sekadar kekayaan alam, yang bebas untuk dikuras habis, melainkan komponen ekosistem yang harus dipertahankan keberadaannya.

Mereka pun merelakan tanah pekarangan untuk dibuat menjadi sumur resapan, semata agar masyarakat yang tinggal di perkotaan bisa mengkonsumsi air bersih dalam jangka panjang. Kini sumur resapan yang telah terbangun di ketiga desa itu sebanyak 361 lokasi.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Akun Twitter Siskaee Lenyap, Ada Apa?

Sabtu, 4 Desember 2021 | 10:46 WIB

Disporapar Genjot Kemajuan Sektor Pariwisata

Jumat, 3 Desember 2021 | 22:21 WIB
X