Kerja Jurnalistik adalah Kerja Kaki, Jangan Khawatir dengan Media Sosial

- Kamis, 14 Oktober 2021 | 12:36 WIB
Srawung awak media sareng Bank Indonesia, Selasa (12/10/2021), di Alana Hotel Karanganyar. (suaramerdeka.com / Langgeng Widodo)
Srawung awak media sareng Bank Indonesia, Selasa (12/10/2021), di Alana Hotel Karanganyar. (suaramerdeka.com / Langgeng Widodo)

KARANGANYAR, suaramerdeka.com - Jurnalis jangan pernah khawatir dengan kehadiran media sosial atau medsos.

Meski belakangan medsos "mengambil" sebagian fungsi media mainstream, terutama dalam promosi, pencitraan, dan branding namun media sosial tidak bisa menggantikan media mainstrem secara utuh.

Dalam Srawung Awak Media sareng Bank Indonesia, Selasa 12 Oktober, terungkap ada perbedaan yang cukup mendasar antara media sosial dengan media mainstream

Media mainstream, baik itu media cetak, radio, televisi, maupun online hadir secara kelembagaan, mewakili publik serta keberadaannya di bawah Dewan Pers dan diatur undang undang.

Baca Juga: PT PRPP Jateng Bertransformasi Jadi Holding Company Pariwisata

Sementara itu media sosial, baik itu Facebook, Youtube, twiter, atau Instagram, meski pengikutnya banyak hingga jutaan, namun representasinya lebih banyak personal, bukan kelembagaan.

Di luar itu semua, penulisan media mainstream itu memenuhi kaidah jurnalistik, terkonfirmasi, dan dapat dipertanggungjawabkan.

"Saya masih ingat betul pesan Romo Sindhunata, bahwa Kerja Jurnalistik itu Kerja Kaki, wartawan harus di lapangan," kata Langgeng Widodo, dari Harian Suara Merdeka, yang menjadi salah satu narasumber.

Belakangan, sejumlah pihak prihatin kehadiran teknologi informasi yang makin canggih membuat daya juang para wartawan di lapangan banyak berkurang.

Baca Juga: Ini Aneka Twibbon Tema Hari Sumpah Pemuda 2021, Pilih yang Mana?

Banyak wartawan mengandalkan rilis dari sebuah lembaga tanpa harus liputan, mengikuti kegiatan.

Sebagian lagi "njagake bandeman" dari wartawan lainnya atau rewrite sana sini.

Target jumlah berita yang begitu banyak dari perusahaan media menjadikan wartawan tak sempat lagi melakukan investigasi ke lapangan.

Para wartawan pun tak sempat belajar atau membaca untuk memperkaya atau menambah pengetahuan.

Baca Juga: Satgas Covid-19 Keluarkan Adendum Kedua SE Terkait Pelaku Perjalanan yang Kembali dari PON Papua

Apalagi belakangan ini, banyak tulisan yang ditulis wartawan hanya untuk mengejar traffic di google.

Akibatnya, banyak tulisan wartawan dangkal, apa adanya, instant, tidak berbobot, bahkan sering kali keliru, sehingga semua menjadi keprihatinan bersama.

"Media sosial itu bukan saingan kita, bukan musuh, karena itu tak perlu dikhawatirkan. Keberadaan media sosial bisa menjadi narasumber kita," kata redaktur sekaligus kepala biro Solo detikcom, Muchus Budi Rahayu.

Sebelumnya, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo Nugroho Joko Prartowo menjelaskan tentang kebijakan moneter bank sentral dalam mendukung pemulihan ekonomi di masa pandemi, khususnya di Kota Solo.

"Sejak Kota Solo masuk level dua, pelonggaran diberlakukan, dan vaksinasi sudah banyak cakupannya, saya melihat, perekonomian di Kota Solo mulai menggeliat. Hotel mulai ramai, aktivitas bisnis di masyarakat juga mulai ramai," kata Joko, begitu dia akrab disapa.***

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ribuan Kader Kesehatan di Sleman Disuntik Booster

Selasa, 30 November 2021 | 13:27 WIB

Hari Naas dan Hari Keberuntungan Selasa Kliwon

Selasa, 30 November 2021 | 10:37 WIB

Libur Akhir Tahun, Destinasi Wisata di Sleman Tetap Buka

Minggu, 28 November 2021 | 15:57 WIB

Tembakau Musim 2021 Masih Belum Menguntungkan Petani

Sabtu, 27 November 2021 | 21:49 WIB
X