Enam Pembina Pramuka Diperiksa

- Sabtu, 22 Februari 2020 | 22:15 WIB
Kabid Humas Polda DIY Kombes Yuliyanto di Pos DVI Biddokkes Polda DIY, Puskesmas Turi, Sleman. (istimewa)
Kabid Humas Polda DIY Kombes Yuliyanto di Pos DVI Biddokkes Polda DIY, Puskesmas Turi, Sleman. (istimewa)

SLEMAN, suaramerdeka.com - Polisi belum menetapkan tersangka atas kasus meninggalnya siswa SMPN 1 Turi Sleman saat mengikuti kegiatan Pramuka susur Sungai Sempor, Jumat (21/2) lalu.

Sejauh ini setidaknya sudah ada enam pembina Pramuka yang diperiksa, dan beberapa saksi dari tingkatan Kwartir Daerah terkait standar operasional prosedur pelaksanaan kegiatan kepramukaan yang beresiko tinggi. Pembina yang dimintai keterangan masih sebatas pihak yang mendampingi saat kegiatan outbond berlangsung.

Menurut Kabid Humas Polda DIY Kombes Yuliyanto, ada tujuh pembina Pramuka. Namun satu orang di antaranya tidak ikut ke lokasi dan hanya menunggu di sekolah. Dari enam pembina itu pun hanya empat orang yang ikut turun ke Sungai Sempor mendampingi para siswa. Sedangkan satu orang menunggu di atas sungai, dan satu lainnya pergi dari lokasi.

"Kami belum menentukan tersangka. Masih dilakukan pemeriksaan dulu," kata Yuliyanto, saat jumpa pers di SMPN 1 Turi, Sabtu (22/2).

Pihaknya pun merasa tidak ada kekhawatiran bahwa saksi akan mangkir karena keberadaan mereka sudah jelas. Sementara terhadap murid-murid, polisi belum melakukan pemeriksaan mengingat keadaan mereka yang masih trauma. Untuk memulihkan kondisi psikis para siswa, dilakukan trauma healing dengan melibatkan tim psikolog dari beberapa universitas, dan Polda DIY.

"Tentu kita akan lakukan pemeriksaan untuk mengetahui siapa yang harus bertanggung jawab atas peristiwa ini," tegas Yuli.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Makwan mengatakan, sebelum kejadian sebenarnya sudah ada infomasi peringatan dini dari BMKG, yang menyebutkan potensi hujan dengan intensitas sedang-lebat pada Jumat (21/2) pukul 13.45 WIB-15.45 WIB di wilayah Kecamatan Sleman, Tempel, Turi, Pakem, dan Cangkringan. Namun susur sungai tetap dilakukan pada pukul 14.30 WIB kendati waktu itu di lokasi belum turun hujan.

Adapun perkembangan terakhir hingga Sabtu (22/2) malam, jumlah korban meninggal dunia ada delapan siswa. Korban terakhir ditemukan di dam Lengkong sekitar pukul 10.15 WIB.

Jenazah korban kemudian dibawa ke Puskesmas Turi. Hasil identifikasi menyebutkan korban atas nama Nadine Fadilah (12), warga Kenaruhan, Donokerto, Turi. Jenazah tujuh siswa yang ditemukan di hari pertama telah dimakamkan.

Halaman:

Editor: Nugroho

Tags

Terkini

X