Hapus Tato Sembari Berdakwah

- Senin, 10 Februari 2020 | 17:00 WIB
 MENGHAPUS TATO : Priyanggono menghapus tato salah satu
MENGHAPUS TATO : Priyanggono menghapus tato salah satu

SLEMAN, suaramerdeka.com - Wawan Prianto tampak sumringah saat keluar dari bilik kayu ukuran 3x2 meter di Warung Kongsuu, Dusun Prigen, Desa Widodomartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman, Senin (10/2) siang. Harapan baru seolah terpancar dari raut wajah bapak dua anak itu.

Wawan, lelaki berusia 40 tahun asal Tamantirto, Kasihan, Bantul adalah salah satu dari puluhan orang yang baru saja mengikuti program hapus tato tanpa syarat. Kepada wartawan, dia menuturkan, keputusan menghapus tato yang sudah lebih dari 20 tahun melekat di lengannya berasal dari niatannya sendiri. "Anak pernah tanya, itu apa di badan bapak, kok ada kotorannya," ucap Wawan.

Kenangannya pun kembali ke masa lalu. Zaman di mana ia lulus SMA dan memutuskan mentato permanen lengan kanan, dan pergelangan tangan kirinya demi ingin dianggap sebagai figur jagoan.

Ini bukan kali pertama ikhtiar Wawan menghapus rajah di tubuhnya. Bukan tindakan mudah menghilangkan pigmen yang telanjur masuk ke kulit. Butuh proses berulang-ulang.
"Ini yang kedua. Dulu juga pernah di Pondok Haji, kebetulan sekarang anak saya paling gede yang ngasih tahu infonya," kata Wawan.

Penghapusan tato yang dilakoninya kali ini tanpa syarat sama sekali. Cukup hanya datang dengan membawa badan. Jika punya rejeki lebih, bolehlah memasukkan sedekah ke kotak infak untuk anak panti asuhan.

Priyanggono, mantan preman yang telah hijrah adalah sosok dibalik program mulia itu. Sembari menyampaikan dakwah, pria 43 tahun yang akrab disapa Pak Pri Beruntung itu tampak tekun melayani satu per satu "pasiennya". Seakan ingin membantu mengurangi rasa sakit saat disinar laser, Pri juga sesekali menyelipkan candaan.

"Tidak usah sedih dengan rasa sakitnya. Insya Allah jika ridho, sakit ini akan jadi pengubur dosa," tutur Pri.

Layanan hapus tato ini berlangsung sejak Minggu (9/2) dan rencananya diadakan setiap hari. Peminatnya banyak bahkan hingga luar DIY. Sampai hari kedua kemarin sudah ada lebih dari 200 orang yang menyatakan ingin menghapus rajah di badannya.

Dengan dibantu tiga anak santri asuhannya, Pri berusaha meladeni semaksimal mungkin. Namun karena keterbatasan tenaga dan alat, tiap hari rata-rata hanya mampu melayani 50 orang.

"Kemarin (Minggu) cuma bisa 12 orang karena gambar tatonya besar-besar. Sekarang dibatasi ukuran 20 cm agar bisa lebih banyak yang terlayani," ujarnya.
 
Hapus tato ini dilakukan sejak pukul 09.30 hingga 17.00 WIB. Pri bahkan menyiapkan genset untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu mati listrik. "Biar yang datang gak gelo (kecewa)," ujar bapak satu anak ini.

Pri menuturkan, keinginannya mengadakan program ini dilatarbelakangi banyak kegiatan serupa namun dengan embel-embel persyaratan. Diceritakan, pernah ada seorang ibu berkeluh kesah kepada Pri karena ingin menghapus tato di badan anak perempuannya namun harus setor hafalan surat.

"Model hafalan surat (Alquran) itu bagus dan saya mendukung. Tapi bagi yang tidak bisa, mendekat saja tidak berani. Karena itu saya ingin memberi solusi," ucapnya.

Halaman:

Editor: Maya

Tags

Terkini

HUT Ke-76, PMI Sleman Siapkan Berbagai Inovasi

Sabtu, 18 September 2021 | 06:45 WIB

BPBD Kaji Risiko Kebencanaan Jelang Musim Penghujan

Jumat, 17 September 2021 | 16:28 WIB
X