Tiket Masuk Objek Wisata Waduk Penjalin Perlu Penataan

- Rabu, 1 Januari 2020 | 21:56 WIB
PERGELARAN SENDRATASIK: Pergelaran Sendratasik Nyatuning Bumi Winduaji meramaikan Festival Winduaji di Waduk Penjalin, Desa Winduaji, Kecamatan Paguyangan, Brebes. (suaramerdeka.com/Teguh Inpras)
PERGELARAN SENDRATASIK: Pergelaran Sendratasik Nyatuning Bumi Winduaji meramaikan Festival Winduaji di Waduk Penjalin, Desa Winduaji, Kecamatan Paguyangan, Brebes. (suaramerdeka.com/Teguh Inpras)

BUMIAYU, suaramerdeka.com - Ketua Diaspora Desa Winduaji, Kecamatan Paguyangan, Brebes, Ali Rokhman mengapresiasi inovasi dan sinergi pemuda, pokdarwis dan pemerintah desa sehingga mampu menyulap waduk peninggalan kolonial Belanda menjadi destinasi wisata menarik.

"Festival Winduaji ini akan mampu menyedot wisatawan," kata Rektor ITT Telkom Purwokerto itu menanggapi Festival Winduaji di Waduk Penjalin, yang berakhir Rabu (1/1). Festival sebagai wujud syukur warga sekaligus semangat menjaga Waduk Penjalin yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat.

Meski begitu, Ali meminta pengelolaan ke depan harus lebih baik dengan penataan pengelolaan tiket masuk. "Dengan sistem tiketing rapi dapat terlihat berapa jumlah pengunjung. Saya optimitis Waduk Penjalin ini akan berdampak positif bagi warga sekitar," ujarnya.

Tahun ini, festival mengambil tema Nyatuning Bumi Winduaji, festival Winduaji digelar mulai Sabtu (28/12). Ragam acaranya antara penanaman pohon, seni drama dan musik (sendratasik), pergelaran musik, tukar takir, penebaran benih ikan dan jalan sehat.

Kepala Desa Winduaji Abdurahman mengatakan, festival digelar dalam rangka tasyakuran Desa Winduaji sekaligus melestarikan budaya dan kearifan lokal. Salah satu kearifan lokal antara lain tukar takir, dimana masyarakat saling bertukar makanan kemudian makan bersama-sama.

"Berbagai kegiatan ini dihadirkan sebagai wujud rasa syukur seluruh warga Winduaji yang memiliki Waduk Penjalin,” kata kades.

Kades menyebut manfaat Waduk Penjalin seluas 1,25 kilometer persegi itu sangat banyak. Dengan daya tampung air 9,5 juta meter kubik, waduk yang dibangun semasa kolonial Belanda pada 1930, menghidupi lahan pertanian, dan warga sekelilingnya.

"Ini digambarkan dalam sendratasik yang menceritakan tentang kehidupan masyarakat dan bagaimana mereka memanfaatkan serta merawat waduk," terangnya.

Camat Paguyangan Eko Purwanto mengharapkan penetapan Winduaji sebagai Desa Wisata pada 2018 diharapkan lebih memacu warga untuk berinovasi memajukan potensi wisatanya.

Halaman:

Editor: Rosikhan

Tags

Terkini

Siswa MAN Purbalingga Diminta Teladani Nabi Muhammad

Minggu, 24 Oktober 2021 | 22:05 WIB
X