Gereja Salib Putih, Sejarah Perjalanan Agama Kristen di Salatiga

- Minggu, 29 Desember 2019 | 10:18 WIB
GEREJA SALIB PUTIH: Tampak samping Gereja Kristen Salib Putih di Salatiga. (suaramerdeka.com/Hendra Setiawan)
GEREJA SALIB PUTIH: Tampak samping Gereja Kristen Salib Putih di Salatiga. (suaramerdeka.com/Hendra Setiawan)

KOTA SALATIGA memiliki tempat wisata Agrowisata Salib Putih. Objek wisata yang terletak di kaki Gunung Merbabu ini bisa ditempuh selama 15 menit dari kota Salatiga. Karena letaknya di sekitar pegunungan, suasananya sejuk dan asri.

Di sekeliling wisata agro ini terdapat perkebunan cengkeh, kopi, dan kapuk randu diintegrasikan dengan peternakan sapi perah. Di dalamnya juga ada Panti Asuhan, Panti Wredha dan Panti Karya. Namun, penamaan objek wisata ini bukan dari perorangan. Namun, diambil dari nama desa yang menjadi letak Agrowisata tersebut.

Nama salib putih tidak lepas dari keberadaan Gereja Kristen Jawa Salib Putih. Gereja ini berada di Jalan Hasanudin (Salatiga – Kopeng) Km 4, yang letaknya tak jauh dari lokasi Agrowisata itu. Ini merupakan salah satu gereja Kristen tertua di Jawa Tengah.

Sedikit informasi, gereja tua lainnya yang ada di Jateng, yakni Gereja Kristen Jawa Tengah Utara di Grobogan yang dibangun pada 1898. Kemudian Gereja GPIB Immanuel (Gereja Blenduk) di Semarang yang dibangun pada 1753. Masing-masing punya sejarah dan keunikan sendiri.

Dari sejumlah literasi, Gereja Kristen Salib Putih dibangun pada 1852. Namun pada tugu yang berada satu komplek dengan Gereja tersebut, tertulis peringatan 50 tahun berdirinya Salib Putih. Tugu itu dibangun pada 1952. Karenanya, bisa jadi Gereja itu dibantun pada 1902, bukan 1852.

Sayang, saat penulis berada ke tempat tersebut, tidak ada pengurus gereja di lokasi. Penulis hanya bertemu dengan warga di sekitar gereja yang kebetulan melintas. Terlepas dari tahun berapa dibangun, Gereja itu telah menjadi bukti sejarah penyebaran agama Kristen di Semarang dan Salatiga.

Bergaya Eropa

Bangunan gereja ini menggunakan atap mansard. Yakni desain atap rumah dengan empat sisi. Di mana terdapat dua lereng masing-masing di sisi atap. Umumnya digunakan di Eropa dan paling banyak dipakai di Perancis. Sedangkan konstruksi dinding menggunakan kombinasi kayu dan dinding papan.

''Sampai sekarang bangunan Gereja Salib Putih masih terawat. Bentuk bangunan masih asli. Tiang dan skur masih asli kayu namun dinding telah diganti dengan dinding batu bata. Pada Natal kemarin, masih digunakan untuk misa natal,'' ujar Paula, warga sekitar.

Halaman:

Editor: Rosikhan

Terkini

X