Shelter Gempa Akan Dibangun di Prambanan

- Jumat, 27 Desember 2019 | 11:24 WIB
Foto: istimewa
Foto: istimewa

SLEMAN, suaramerdeka.com - Kecamatan Prambanan, Sleman menjadi salah satu lokasi yang mengalami dampak kerusakan parah akibat gempa bumi tahun 2006 silam. Pasca bencana itu, langkah mitigasi terus didorong. Tahun depan, pemerintah berencana membangun shelter gempa di Prambanan, dan satu unit lagi di seputaran sesar Kali Opak daerah Dlingo, Bantul. Untuk tahun ini, shelter gempa juga didirikan di dua lokasi yakni Sanden Bantul, dan Gedangsari Gunungkidul.

Kepada wartawan, Jumat (27/12), Kepala Stasiun Geofisika BMKG Yogyakarta Agus Riyanto menjelaskan, bangunan shelter tersebut memiliki ukuran 4x4 meter yang keseluruhan terbuat dari bahan beton. Di dalamnya dilengkapi piranti seismometer untuk mengukur pergerakan tanah, satelit, catu daya berupa baterai kering dan pembangkit solar cell, serta alat transmiter untuk mengirim data.

"Berkaca dari pengalaman gempa tahun 2006 lalu, sesar Opak perlu diamati. Potensi kegempaan di kawasan pantai selatan Jawa memang tinggi termasuk tsunami," ujarnya.

Dia memaparkan, setidaknya ada dua generator atau sumber gempa di wilayah selatan Jawa. Pertama adalah aktivitas pergerakan dua lempeng besar dunia yakni Indo-Australia, dan Euro Asia pada daerah subduksi yang terletak 200 kilometer dari pantai selatan Jawa. Lempeng itu membentang dari selatan Sumatera sampai dengan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Adapun pergerakannya berupa lempeng Indo-Australia yang menyusup ke bawah lempeng Euro-Asia. Ukurannya berbeda-beda di setiap wilayah. Untuk DIY, kedua lempeng saling menyusup dengan ukuran rata-rata 44 milimeter per tahun. "Akibat pergerakan itu, jika energi sudah tidak bisa ditahan maka akan dilepaskan sehingga menimbulkan tsunami. Seperti kejadian di Pangandaran beberapa waktu lalu," bebernya.

Berdasar analisa, kekuatan gempa megathrust yang terjadi pada titik pertemuan antar lempengan ini bisa mencapai 8,5 magnitudo. Dengan kekuatan gempa sebesar itu diperhitungkan dapat memicu tsunami hingga ketinggian 10 meter, dan akan tiba di daratan dalam kurun waktu setengah jam.

Selain lempengan dunia, potensi megathrust juga disebabkan adanya sesar gempa di Opak, dan beberapa sesar lokal lain di daerah sekitarnya. Secara teori, keberadaan sesar ini dapat menimbulkan gempa berkekuatan 5,5 hingga enam skala richter di daratan. "Kejadian gempa memang belum bisa diprediksi bahkan di negara maju sekalipun, tapi sudah ada upaya kesana. Di DIY juga ada kegiatan prekursor gempa tapi masih sebatas kajian internal," kata Agus

Editor: Andika

Tags

Terkini

Akun Twitter Siskaee Lenyap, Ada Apa?

Sabtu, 4 Desember 2021 | 10:46 WIB

Disporapar Genjot Kemajuan Sektor Pariwisata

Jumat, 3 Desember 2021 | 22:21 WIB
X