Rob Tinggalkan Dampak Ganda

Andika
- Kamis, 19 Desember 2019 | 20:17 WIB
DIKEPUNG ROB: Permukiman warga di Kelurahan Kandang Panjang, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan terkepung rob selama belasan tahun akibat naiknya permukaan air laut dampak perubahan iklim dan penurunan permukaan tanah akibat pengambilan air tanah dalam. (suaramerdeka.com / Isnawati)
DIKEPUNG ROB: Permukiman warga di Kelurahan Kandang Panjang, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan terkepung rob selama belasan tahun akibat naiknya permukaan air laut dampak perubahan iklim dan penurunan permukaan tanah akibat pengambilan air tanah dalam. (suaramerdeka.com / Isnawati)

TUJUH bulan sudah Ike Janny Istiqomah (16), harus berpindah-pindah rumah. Ia dan keluarganya terpaksa meninggalkan rumah mereka di RT 02/ RW 09 Kelurahan Kandang Panjang, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, karena rusak terendam rob atau  pasang air laut.

Rob mengepung lingkungan tempat tinggal Ike selama belasan tahun dan tidak pernah surut. Genangan rob setinggi 40 hingga 50 sentimeter mengakibatkan tertutupnya akses dari rumahnya ke jalan utama. Dulu, ayah Ike membuat titian bambu guna mempermudah akses ke luar rumah. Namun, seiring dengan semakin tingginya genangan rob, titian bambu tenggelam dan akhirnya lapuk. Untuk ke sekolah, Ike dan kedua adiknya harus rela berbasah-basah menerobos genangan rob.

Tak tega melihat ketiga anaknya selalu basah kuyup saat berangkat sekolah, ayah Ike kemudian membeli perahu untuk memudahkan perjalanan mereka. Namun akhirnya perahu bocor dan tidak bisa digunakan lagi. Bersamaan dengan itu, tembok rumah Ike semakin banyak yang runtuh terkikis rob. Hingga akhirnya, pada Mei 2019, Ike dan keluarganya memutuskan meninggalkan rumah yang telah ditempati sejak 1998 itu.

Keluarga Ike hanyalah satu dari ribuan keluarga di Kota Pekalongan yang terdampak rob akibat perubahan iklim. Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Kota Pekalongan, sampai tahun 2018, luas genangan rob mencapai 1.404 hektar atau 31,03 persen dari luas Kota Pekalongan 4.525 hektar.

Ada sembilan kelurahan terdampak rob. Kelurahan Kandang Panjang, Bandengan, Padukuhan Kraton, Panjang Baru, Panjang Wetan, Krapyak dan Degayu (Kecamatan Pekalongan Utara), serta Kelurahan Pasirkratonkramat dan Tirto (Kecamatan Pekalongan Barat). Tercatat 9.301 kepala keluarga (KK) tinggal di sembilan kelurahan tersebut.

Rob yang menggenangi sejumlah kelurahan selama belasan tahun merusak rumah, jalan dan fasilitas umum, serta mengakibatkan ratusan hektar areal pertanian tidak bisa digarap. Berdasarkan penelitian yang dilakukannya di Kota Pekalongan pada tahun 2018, Ahli Geodesi dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr. Heri Andreas ST, MT memperkirakan biaya kerugian untuk adaptasi lahan akibat rob mencapai Rp 6,810 triliun. Untuk infrastruktur Rp 1,723 triliun.

Estimasi biaya kerugian ekonomi akibat rendaman rob sekitar Rp 244,101 miliar hingga Rp 492,612 miliar. Sementara estimasi biaya relokasi apabila menjadi pilihan mencapai Rp 13,076 triliun hingga Rp 16,086 triliun. “Ini adalah bencana. Sehingga harus ada upaya adaptasi mitigasi,” tegasnya.

Rob juga menyebabkan penurunan kualitas sanitasi lingkungan seperti tidak berfungsinya lagi jaringan pasokan air bersih, jamban dan saluran pembuangan air limbah. Selama tinggal di rumah lamanya, Ike dan keluarganya sering mengalami gatal-gatal dan biduran akibat kualitas dan kebersihan air yang digunakan mereka sehari hari.

Untuk memperoleh air bersih, Ike dan keluarganya menyaring air sumur yang tercemar rob menggunakan filter dari batu kerikil. “Itu untuk mandi. Sedangkan untuk minum, kami mengambil air dari kran Pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat,” terang Ike.

Halaman:

Editor: Andika

Terkini

Muktamar Muhammadiyah Bangkitkan PAD Daerah

Rabu, 28 September 2022 | 06:10 WIB
X