Kasus Pemukulan di RSUD Bendan Pekalongan Selesai Secara Kekeluargaan, Oknum Dokter SpOg Diberi Sanksi

- Senin, 20 September 2021 | 15:01 WIB
KONFERENSI PERS - Direktur RSUD Bendan dr Junaedi Wibawa, didampingi Kepala Komite Medis, Ketua Tim Penegakan Disiplin, dan Kabid Pelayanan Medis memberikan keterangan pers di Aula RS setempat, terkait munculnya dugaan kasus pemukulan yang dilakukan oleh oknum dokter Spog rumah sakit setempat, Senin 20 September 2021.  (suaramerdeka.com/Kuswandi)
KONFERENSI PERS - Direktur RSUD Bendan dr Junaedi Wibawa, didampingi Kepala Komite Medis, Ketua Tim Penegakan Disiplin, dan Kabid Pelayanan Medis memberikan keterangan pers di Aula RS setempat, terkait munculnya dugaan kasus pemukulan yang dilakukan oleh oknum dokter Spog rumah sakit setempat, Senin 20 September 2021.  (suaramerdeka.com/Kuswandi)

 

PEKALONGAN, suaramerdeka.com - Kasus dugaan pemukulan di RSUD Bendan Kota Pekalongan, yang dilakukan oleh oknum dokter SpOg kepada dokter Residen Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) berinisial dr JNT yang tengah melakukan Program Pendidikan Dokter Spesialis atau PPDS, Senin 13 September 2021 lalu berakhir damai.

Akibat kejadian tersebut, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas langsung berkirim surat dan menarik semua dokter residen dari RSUD Bendan sejak 15 September, serta menghentikan Perjanjian Kerjasama atau PKS dan akan ditinjau kembali.

Menanggapi hal ini, manajemen RSUD Bendan Kota Pekalongan, bergerak cepat untuk mengklarifikasi kejadian yang sebenarnya. Maka, Senin 20 September 2021 pagi menggelar konferensi pers untuk menjelaskan permasalahan tersebut.

dr. Junaedi Wibawa selaku Direktur mengakui memang terjadi suatu pelanggaran, etika dan disiplin atas salah satu tenaga spesialisnya. Dikatakan, memang pada Senin (13/9) sekira pukul 9 pagi memang terjadi permasalahan antaran DPJP Obsgin yang mana dokter Non-ASN RSUD Bendan dengan seorang dokter Residen Bedah.

Baca Juga: Simulasi Tahap Pertama: Pengelola TKL Diberi Catatan, Anak di Bawah 12 Tahun Belum Boleh Masuk

Dirinya selaku direktur sudah menindaklanjuti hal itu dengan memerintahkan Komite Medis melalui Sub Komite Etik dan Disiplin untuk melakukan pemeriksaan terhadap para pihak kemudian membuat rekomendasi terhadap permasalahan itu. Hasilnya, kata dia, bahwa memang telah terjadi suatu pelanggaran etika dan disiplin oleh salah satu DPJP Obsgin tersebut.

"Namun kami harus sampaikan bahwa kalau bahasanya penganiayaan, itu tidak. (DPJP Obsgin itu) Hanya menampar dan sempat ditangkis (oleh Residen Bedah)," terangnya.

Dia menambahkan bahwa perselisihan atau permasalahan itu tidak terkait dengan layanan, atau tidak terkait dengan profesi dokter kandungan dan profesi dokter bedah.

Baca Juga: Lima Warung di Pantura Pemalang Terbakar, Tidak Ada Korban Jiwa


"Ini adalah masalah pribadi antara mereka berdua, hanya karena masalah ketersinggunangan dan ketidaknyamanan pada saat Residen Bedah ini berkomunikasi dengan dokter kandungan tersebut.

Ada ketidaknyamanan yang mungkin karena perasaan senior dan junior kemudian melakukan sesuatu itu, jadi tidak memukul dengan membabi buta dan sebagainya. Hanya sekali, dan itu ditangkis," tegasnya.

Kendati demikian, terkait persoalan dimaksud, menurutnya sudah diselesaikan secara kekeluargaan, dan kedua belah pihak untuk tidak menuntut lebih lanjut.

Atas kejadian itu, dr Junaedi menyatakan bahwa pihaknya melalui Tim Penegak Disiplin RSUD Bendan telah memberikan hukuman disiplin atas pelanggaran yang telah dilakukan salah satu DPJP Obsgin dimaksud.

Hukuman disiplin itu sebagaimana mengacu pada regulasi diantaranya Peraturan Walikota Pekalongan No 30 Tahun 2019 dan Peraturan Direktur RSUD Bendan Kota Pekalongan.

Ada tiga jenis sanksi disiplin yang diberikan terhadap DPJP tersebut. Pertama, penurunan jabatan satu tingkat lebih rendah (dari Kepala Instalasi menjadi staf Medis Fungsional-Red). Kedua, tidak melakukan pelayanan di RSUD Bendan selama tiga bulan terhitung sejak 17 September 2021 sampai dengan 16 Desember 2021. Ketiga, DPJP tersebut hanya mendapatkan 25% dari Jasa Pelayanan bulan September 2021 atas pelayanan yang sudah diberikan.

Baca Juga: Dorong Produksi Rendah Karbon, Jokowi juga Minta Pengusaha Mebel Tetap Jaga Kelestarian Hutan

"Untuk menghindari efek psikologis yang lebih besar kepada Residen Bedah yang bersangkutan, maka dari Dekan Undip menarik untuk sementara Residen di RSUD Bendan. Pihaknya juga akan melakukan pembahasan kembali terkait MoU atau PKS penempatan Residen di RSUD Bendan.

Nanti kita akan lakukan pembicaraan tripartit antara kami RSUD Bendan, RS Kariadi, dan Fakultas Kedokteran Undip,"imbuhnya.

Adanya kejadian itu, kata dia, pihaknya memberikan warning ke manajemen RSUD Bendan agar proses pengenalan dari masing-masing karyawan bisa dilaksanakan lebih baik. "Misalnya dengan pemberian identitas tertentu kepada masing-masing pemberi layanan yang berbeda," pungkasnya.

Seperti diketahui, dugaan pemukulan tersebut muncul berawal, waktu itu seorang dokter Residen bedah dari FK Undip, dr JNT sedang berada di Instay Bedah Sentral (IBS) RSUD Bendan, dan diberi tugas untuk memanggil pasien rencana operasi hari itu.
Dokter tersebut kemudian mencari perawat, tapi tidak ada. Kemudian dia ke tempat Pentri dan mendekati salah satu orang yang dikiranya perawat. Selanjutnya dr JNT minta tolong pada orang tersebut untuk memanggilkan pasien.

Namun orang tersebut terlihat marah, dan menyuruh dr JNT untuk tanya di ruang tengah. Tidak sampai disitu, pria yang diketahui merupakan salah satu dokter di RSUD Bendan tersebut nampak tidak senang, dan sempat menghardik.

Kemudian dia berdiri dan menghampiri korban, dan secara emosional dan memukul kepalanya dengan tangan kanan. Korban sendiri kemudian sadar bahwa ternyata oknum dokter tersebut merupakan Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP), dan diapun meminta maaf.

Bahkan setelah keluar dari IBS, korban juga kembali meminta maaf dan menanyakan alasan memukulnya. Ternyata hal itu membuat oknum tersebut tidak senang, dan menantang duel korban. Beruntung ada dokter lainnya yang datang, dan kemudian meredakan situasi.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Gebrak Bayi, Tradisi Berkah Si Buah Hati

Jumat, 26 November 2021 | 22:28 WIB

Polres Pemalang Tangkap Pembuat dan Penjual Uang Palsu

Kamis, 25 November 2021 | 16:12 WIB
X