Soal PLTN Perlu Survai Ulang

- Jumat, 29 November 2019 | 13:55 WIB
Foto Istimewa
Foto Istimewa

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN memang dibutuhkan, namun bila ingin membuat PLTN sebaiknya ada kajian ulang mengenai ketersediaan penduduk di wilayah tersebut.  

Sebab, menurut Purnomo Yugiastoro, pendiri Purnomo Yusgiantoro Center, walau sangat dibutuhkan guna memenuhi kebutuhan energi, tapi dalam 100 tahun mendatang PLTN belum akan terealisasi.

Pendiri Purnomo Yusgiantoro Center mengatakan itu dihadapan peserta seminar nasional 'Penguatan Ketahanan Energi Untuk Mendukung Ketahanan Nasional' di Universtas Pembangunan Nasional (UPN) 'Veteran' Yogyakarta, kemarin.

''Selama ini kebutuhan energi untuk listrik terbesar ada di Jawa. 15 tahun yang lalu kita sempat mengusulkan pendirian PLTN di Gunung Muria, namun ditolak masyarakat,'' katanya.

Meski secara infrastruktur kelistrikan untuk PLTN dinilai siap, namun pendirian PLTN harus dikaji ulang pada hal factor memberikan harga energi yang terjangkau (affordability) dan menerima jenis energi tertentu (acceptability).

Langkah ini juga perlu dilakukan pada Kalimantan Barat serta Bangka Belitung, yang menyatakan bersedia menjadi daerah pertama yang memiliki PLTN di Indonesia.

''Sekarang saya nggak tahu, sebab penolakan itu terjadi lima belas tahun lalu. Sekarang seharusnya disurvei lagi, mau lagi apa enggak? Demikian juga teknologi dan bahan bakunya, perlu dikaji,'' ujar dia menerangkan.

Sementara Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia Rinaldy Dalimy menyatakan, meski tertuang dalam Kebijakan Energi Nasional. Tapi PLTN menjadi pertimbangan dan pilihan terakhir.

''Ada resiko dalam penerapan teknologi nuklir baik untuk persenjataan, pertanian, kesehatan maupun kelistrikan. Senjata berisiko ledakan, pertanian dan kesehatan berisiko pada limbah, energi listrik berisiko kecelakaan,'' katanya.

Halaman:

Editor: Maya

Tags

Terkini

X