Produsen Pakan Ayam Bisa Kurangi Pengangguran

- Jumat, 15 November 2019 | 21:35 WIB
BERI PENJELASAN: Direktur Operasional PT Sidoagung Farm, H Asroh Nawawi, memberi penjelasan kepada warga tentang proses produksi pakan ayam, Jumat petang (15/11). (Eko Priyono)
BERI PENJELASAN: Direktur Operasional PT Sidoagung Farm, H Asroh Nawawi, memberi penjelasan kepada warga tentang proses produksi pakan ayam, Jumat petang (15/11). (Eko Priyono)

MUNGKID, suaramerdeka.com - Saat sekarang jumlah pengangguran di Tanah Air sekitar 62 ribu orang. Produsen pakan ayam PT Sidoagung Farm di Dusun Punduh, Desa Sidoagung, Tempuran, Kabupaten Magelang bisa mengurasi banyaknya jumlah pengangguran.

Direktur Operasional PT Sidoagung Farm, H Asroh Nawawi, mengatakan hal itu ketika berdialog dengan tokoh masyarakat dan pekerja perusahaan yang tengah melakukan uji coba itu, Jumat petang 15 November 2019. Ujicoba produksi dilakukan sejak Akhir Mei 2019, kemudian pada Agustus sampai September berhenti. Mulai akhir Oktober sampai sekarang melakukan ujicoba lagi.

Dikatakan, mengapa pabrik itu ada di Punduh?. Menurut dia, karena ingin mengangkat nama baik Magelang ke mata dunia. Perusahaan itu memberi tahu dunia bahwa Magelang bukan hanya konsumen tetapi produsen. Perusahan itu ingin berpartisipasi dan memberikan sumbangsih bagi masyarakat, bangsa, dan negara. ''Kalau hanya memikir keuntungan mungkin tidak mendirikan pabrik di Punduh, karena pernah ada tawaran di Kamboja,'' katanya.

Dengan adanya pabrik pakan ayam di desa itu, lanjutnya, bisa menyerap banyak tenaga kerja. Selain karyawan, juga memberi peluang bagi petani jagung maupun padi. Lalu juga butuh tenaga ekspedisi untuk transportasi bahan baku. Selain itu memberi peluang kerja bagi pedagang ayam maupun rumah potong ayam. ''Hampir 90 persen pakan ternak dimonopoli perusahaan asing. Ini perusahaan milik anak negeri,'' tuturnya.

Dialog
Untuk mendirikan pabrik pakan ternak itu diawali mendapat rekomendasi sejak 2013 dan pada 2017 sudah lengkap perizinannya. Selanjutnya dilakukan ujicoba, namun mendapat reaksi dari warga tentang bau dan debu. Ditargetkan Desember mendatang semua dampak yang dikeluhkan warga sudah bisa diselesaikan, dan kemungkinan akan produksi mulai Januari 2020.

Sehubungan adanya protes dari warga, maka sudah beberapa kali dilakukan dialog. H Asroh Nawawi menegaskan semua keluhan warga diakomodir dan telah dilakukan langkah untuk menghilangkan bau dan debu. Ditegaskan, bahan baku pakan ternak bebas dari kandungan babi, tidak menggunakan ikan mati, 55 persen bahan baku dari jagung murni dari petani Magelang, Yogyakarta, Klaten dan Kendal. Bahan lainnya 10-15 persen berupa katul dedak limbah padi dari petani. ''70 persen bahan baku pakan ternak dari Indonesia,'' ujarnya.

Kadus Punduh HM Mahrom berharap antara masyarakat dan pihak pabrik terjalin komunikasi yang baik. Permasalahan yang telah dibahas melalui beberapa forum semoga dapat menemukan kesepakatan, demi kebaikan bersama. ''Yang dikeluhkan masyarakat tentang bau semoga dengan usahanya pabrik bisa mengatasi masalah itu,'' katanya.

Salah satu warga, Nurkholis, menyatakan, warga Punduh bisa menerima kehadiran perusahaan tersebut, apalagi sudah berbenah diri agar tidak merugikan lingkungan. ''Prinsipnya saling menguntungkan, masyarakat
Punduh keberatan namanya pernah dicatut oknum tertentu,'' katanya.

Kiai Solikhun menambahkan, pabrik tersebut tidak merugikan lingkungan dan warga tidak menuntut untuk menutup pabrik. ''Saat gejolak tidak ada tuntutan untuk menutup pabrik, karena keluhan kami hanya tentang bau dan debu,'' tuturnya.

Editor: Achmad Rifki

Tags

Terkini

Selama Pandemi Pelanggaran Lalu Lintas Turun

Senin, 20 September 2021 | 21:53 WIB

Pesantren Didorong Jadi Kader Penanganan TBC

Senin, 20 September 2021 | 14:45 WIB

Berdayakan Umat, NU Kebumen Kembangkan Pertanian

Minggu, 19 September 2021 | 21:50 WIB

Banyak Petani Frustrasi, Pemerintah Beri Pelatihan

Minggu, 19 September 2021 | 19:20 WIB

Pola Vaksinasi Jemput Bola, Sediakan Ayam untuk Hadiah

Minggu, 19 September 2021 | 15:35 WIB
X