EWS Banjir Lahar Banyak yang Rusak

- Sabtu, 2 November 2019 | 12:31 WIB
Foto blogACT
Foto blogACT

SLEMAN, suaramerdeka.com - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Yogyakarta memperkirakan awal musim hujan di DIY berlangsung pada bulan November ini. Banjir lahar masih menjadi salah satu ancaman bencana, khususnya bagi warga yang bermukim di dekat aliran sungai dari hulu Gunung Merapi.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman memperkirakan volume lahar dingin yang tersisa di puncak Merapi sekitar 20-25 juta meter kubik. Di tengah ancaman bencana lahar dingin, kesiapan sarana early warning system (EWS) sangat diperlukan. Saat ini ada 13 EWS lahar dingin yang terpasang di sisi barat dan timur lereng Merapi.

Pada sisi barat terdapat 4 unit masing-masing di wilayah Turgo, Kemiri, Pulowatu, dan Rejodani. Sedangkan sisi timur tersebar di Ngerdi, Jambon Lor, Bronggang, Jarangan, Kowang, Banjarsari, Kopeng, Kalitengah Kidul, dan Petung.

Namun dari belasan EWS itu, banyak yang kondisinya rusak. "Peralatan yang ada di sisi barat, semua sensornya rusak sehingga diganti dengan CCTV. Sementara yang di bagian timur, dari awal memang tidak dilengkapi sensor tapi mengandalkan CCTV," kata Kepala Seksi Mitigasi Bencana BPBD Sleman Joko Lelono, Jumat (1/11).

Tidak hanya rusak, bagian peralatan juga ada yang hilang. Seperti yang dijumpai pada EWS di Dusun Banjarsari, Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan. Joko mengungkapkan, beberapa alat seperti sirine, amplifier, dan sensor diketahui hilang sejak sekitar 3 bulan silam namun bagian CCTV masih ada. 

"Yang hilang adalah peralatan yang terpasang di bawah. Kalau dihitung nilainya sekitar Rp 15-20 juta," ungkapnya.

Kebetulan, lanjut Joko, piranti EWS yang hilang, lokasinya ada di dekat jalan dan sering digunakan untuk tempat berkumpul. Solusi sementara, BPBD menggantinya dengan peralatan darurat berupa aki, sirine, dan remote. Pantauan dilakukan dari sisi atas. Dengan begitu tanpa sensor pun, paling tidak CCTV di Kalitengah Kidul berfungsi sehingga dapat membantu monitoring. 

"Kami juga punya teknologi FM. Ketika relawan membuka aplikasi radio lewat smartphone di frekuensi 91.3, apabila ada kejadian banjir lahar, mereka akan segera mengetahuinya," jelas Joko.

Menurutnya, potensi banjir lahar kecil kemungkinan terjadi. Dengan volume lahar 20-25 juta meter kubik yang tersisa, diperkirakan semuanya mampu tertampung di aliran normalisasi sungai, dan dam yang sudah dibuat berlapis.

Halaman:

Editor: Maya

Tags

Terkini

PKS: Kitab Kuning Pondasi Pembangunan Peradaban

Senin, 6 Desember 2021 | 12:03 WIB

Komunitas Save Pekalongan Bantu Warga Terdampak Rob

Senin, 6 Desember 2021 | 09:12 WIB

Gading Paradise, Hadirkan Miniatur Eropa di Kebumen

Minggu, 5 Desember 2021 | 11:14 WIB

Akun Twitter Siskaee Lenyap, Ada Apa?

Sabtu, 4 Desember 2021 | 10:46 WIB
X