KEBUMEN, suaramerdeka.com - Berlangsungnya revolusi industri 4.0 ditandai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi menghilangkan batas wilayah dan mengubah masyarakat secara dinamis.
Hal ini membuat generasi saat ini memiliki tantangan identitas bangsa yang cukup besar.
Teknologi komunikasi dan informasi mengubah perang konvensional menjadi perang modern, menggunakan teknologi, media massa, cyber war.
Yakni perang mengubah pola pikir, bukan perang kekuatan militer, tetapi perang pengaruh melalui ideologi, politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan.
Baca Juga: Gracia Indri Menetap di Belanda: Berangkat Akhir Bulan Ini
Tanpa disadari infiltrasinya, sasarannya ketahanan ekonomi, pertahanan dan keamanan, budaya, ideologi, lingkungan, politik, karakter.
Generasi milenial pun harus menghadapi gempuran budaya global yang tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia melalui pola serangan melalui F-7.
Yakni food, fuel, fashion, film, dan fantasi, filosofi, dan finansial yang sangat masif.
"Semangat juang mulai luntur dan tergantikan dengan nilai-nilai materialisme, hedonisme. Untuk itulah pentingnya memperkuat karakter dan wawasan kebangsaan kepada generasi millenial melalui cara-cara yang relevan," ujar tokoh muda Kebumen dr Faiz Alaudien Reza Mardhika saat menjadi narasumber pada Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Hotel Mexolie Kebumen, kemarin.
Baca Juga: Muncul Situs PeduliLindungia.com, Satgas Minta Masyarakat Waspada
Artikel Terkait
Berstatus Rentan, Generasi Milenial Tentukan Eksistensi Bahasa Jawa
Agar Tak Hilang di Era Milenial, Penggunaan Aksara Jawa bisa Dioptimalkan di Ranah Digital
Keuangan Generasi Milenial Kacau? Ini 4 Faktor Penyebabnya
Public Expose 2021: Dominasi Investor Milenial Makin Nyata
Generasi Milenial Sulit Mengelola Keuangan? Coba 4 Tips Berikut