Cegah Populasi Nyamuk Malaria, Purworejo Lakukan Fogging dan Larvasida di Sungai Kedung Puteri

- Minggu, 12 September 2021 | 11:58 WIB
Purworejo lakukan fogging dan larvasida untuk mencegah populasi nyamuk Malaria. (suaramerdeka.com/dok)
Purworejo lakukan fogging dan larvasida untuk mencegah populasi nyamuk Malaria. (suaramerdeka.com/dok)

PURWOREJO, suaramerdeka.com - Untuk mencegah populasi nyamuk penyebab malaria dengan langkah represif, maka Purworejo melakukan pengasapan dan larvasida di sungai Kedung Puteri Purworejo, Minggu 12 September 2021.

"Pengasapan harus dilakukan dengan dosis dan waktu yang tepat, dimana saat nyamuk menginjak umur dewasa. Cara ini efektif membunuh nyamuk 60-70 persen bahkan bisa zero," ujar mantan Ketua Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Pengendali Hama Asosiasi Perusahaan Pengendalian Hama Indonesia (Aspphami), Zainal Arifin.

Langkah persuasif untuk memutus mata rantai nyamuk Anopheles dengan menerapkan pola hidup bersih, yakni dengan menjaga kebersihan lingkungan.

"Untuk membunuh nyamuk yang masih dalam wujud jentik atau telur bisa dengan proses larvasida," terang Zainal yang juga sebagai Owner PT Turacon Wirasta Cabang Purworejo.

Baca Juga: Pemilu 2024, PKB Targetkan Kemenangan Eksekutif dan Legislatif di DKI Jakarta

Zainal mengatakan, berdasarkan data badan kesehatan dunia (WHO) Kabupaten Purworejo masuk wilayah endemik malaria.

Untuk itu, langkah fogging haus intensif dilakukan di tempat-tempat yang mejadi sarang nyamuk Anopheles.

“Nyamuk malaria berkembangbiak di genangan air dan pohon serta tempat kotor atau kumuh. Nyamuk ini juga memiliki masa siklus dari telur sampai menjadi nyamuk selama 10-14 hari."

"Apalagi di musim pancaroba seperti ini, masa siklusnya bisa lebih cepat," katanya.

Baca Juga: China Klaim Punya Kedaulatan Historis Atas Jalur Air di Laut Natuna Utara

Pria yang juga Ketua Umum Perkumpulan Keluarga Besar Purworejo (Pakuwojo) ini menuturkan, nyamuk malaria menggigit pada malam hari.

Selain malaria, genangan air dari limbah keluarga di sungai Kedung Puteri berpotensi menjadi sarang nyamuk biasa (lokal).

"Nyamuk-nyamuk biasa aau lokal ini juga bisa mmenyebabkan infeksi. Jadi harus diwaspadai dan harus dibasmi," tuturnya.

Di tempat yang sama, Martono (57) salah satu warga RT.2 RW.4 Kelurahan Baledono, Purworejo mengaku, bila malam hari nyamuk cukup menganggu warga yang tengah beristirahat.

Baca Juga: Indonesia Akan Mendapat Pasokan 3 Juta Dosis Vaksin Janssen, BPOM Beri Gambarannya

Diperkirakan nyamuk beasal dari genangan air dari sungai Kedung Puteri yang tidak mengalir.

"Genangan air ini berasal dari limbah rumah tangga. Sejak musim kemarau air tidak sungai tidak mengalir, jadi tempat berkembangbiak nyamuk," ungkap Martono.

Hal senada diungkapkan Saring (75). Warga yang tinggal di RT.7 RW.4 Kelurahan Baledono, Purworejo ini mengaku nyamuk banyak menggangu warga saat malam tiba.

Ia berharap, upaya pengasapan bisa dilakukan intensif untuk mencegah kasus malaria.

Baca Juga: Chelsea Vs Aston Villa: Dwigol Romelu Lukaku Bawa The Blues Menang Telak 3-0

"Ini (pengasapan dan larvasida) oleh Turacon ini sangat membantu kami. Semoga kegiatan ini bisa dilakukan lebih sering lagi," kata Saring.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo, dr Sudarmi mengapresi langkah represif pengasapan dan larvasida oleh PT Turacon Wirasta Purworejo.

Ia berharap lebih banyak lagi swasta yang peduli dan melakukan bakti sosial kepada masyarakat.

Halaman:
1
2
3

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pesta Miras di Cepu Memakan Korban, 5 Orang Tewas

Kamis, 20 Januari 2022 | 08:48 WIB

Penduduk Miskin Jawa Tengah Turun 175,74 Ribu Orang

Selasa, 18 Januari 2022 | 16:20 WIB

Polres Boyolali Musnahkan 300 knalpot Brong

Selasa, 18 Januari 2022 | 15:57 WIB
X