Dzikir Kebangsaan, Seribu Salawat dari Alma Ata untuk Indonesia

- Selasa, 22 Oktober 2019 | 13:44 WIB
SALAWAT: Sejumlah mahasiswa mahasiswi Universitas Alma Ata Yogyakarta tengah menunjukkan perfomance bersalawat saat Dzikir Kebangsaan Seribu Salawat dari Alma Ata untuk Indonesia di Green Land, kompleks kampus setempat, Selasa (22/10). (Foto suaramerdeka.com/Gading Persada)
SALAWAT: Sejumlah mahasiswa mahasiswi Universitas Alma Ata Yogyakarta tengah menunjukkan perfomance bersalawat saat Dzikir Kebangsaan Seribu Salawat dari Alma Ata untuk Indonesia di Green Land, kompleks kampus setempat, Selasa (22/10). (Foto suaramerdeka.com/Gading Persada)

BANTUL, suaramerdeka.com - Hampir seribu orang hadir dalam Dzikir Kebangsaan bertajuk Seribu Salawat dari Alma Ata untuk Indonesia yang diiniasi civitas akademika Universitas Alma Ata Yogyakarta, Selasa (22/10) pagi. Berlangsung di Green Land, kompleks kampus setempat, Dzikir Kebangsaan digelar sekaligus untuk memperingati Hari Santri Nasional yang jatuh setiap tanggal 22 Oktober.

"Dzikir kebangsaan ini intinya sebagai bentuk doa bersama untuk keselamatan dan kedamaian bangsa Indonesia," tutur Direktur Aswaja Center sekaligus ketua panitia Ahmad Anis Abdullah disela kegiatan, Selasa (22/10).

Meski diakuinya sebagai kegiatan yang rutin digelar setiap tahunnya, namun untuk tahun ini terasa spesial. Sebab bersamaan dengan dilantiknya Joko Widodo-KH Maaruf Amin sebagai Presiden-Wapres RI. Sekaligus menjelang pengumuman kabinet baru.

"Tahun ini penting sekali, karena ada kabinet baru. Harapannya semoga pemerintahan ke depan bisa lebih mensejahterakan rakyat Indonesia," tutur dia.

Anis mengungkapkan, para peserta salawat sebagian besar adalah mahasiswa baru Universitas Alma Ata dari berbagai fakultas. Termasuk jajaran rektorat, dekanat dan karyawan lainnya. Dibuka salawat, seluruh peserta pria kompak mengenakan sarung dan berbaju koko putih serta berkopiah. Sementara yang wanita mengenakan pakaian muslimah putih dan berkerudung putih. Selain salawat dan doa, Dzikir Kebangsaan juga diisi dengan pembacaan puisi oleh Ruwet Rusiono, seorang dosen Ilmu Bahasa Indonesia dari kampus setempat.

"Semoga menjadi semangat baru bahwa santri dulu pernah dan ikut berjuang merebut kemerdekaan. Dan bisa meniru semangat santri terdahulu," ungkap Anis.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Alma Ata Yogyakarta, Prof Dr Hamam Hadi, MS, ScD SpGK lebih banyak menjelaskan arti sebenarnya dari kata santri.

"Santri adalah Hamba Allah yang senantiasa taat kepada Allah, ndreek dawuh dan seneng marang kanjeng nabi. Hamba allah yang setiap hari mengkaji Al Quran, Hamba Allah yg setiap hari bermanfaat. Santri-santri tulen," sambung Rektor.

Prof Hamam pun menyoroti keadaan seseorang yang sudah dikaruniai ekonomi kuat dan juga kecerdasan namun tidak diimbangi hidayah.

Halaman:

Editor: Maya

Tags

Terkini

Penduduk Miskin Jawa Tengah Turun 175,74 Ribu Orang

Selasa, 18 Januari 2022 | 16:20 WIB

Polres Boyolali Musnahkan 300 knalpot Brong

Selasa, 18 Januari 2022 | 15:57 WIB
X