Transformasi Koperasi Berbasis Aplikasi

- Minggu, 20 Oktober 2019 | 14:03 WIB
Pedagang Pasar Wage Purwokerto merapikan dagangan. Masyarakat kini semakin mudah berbelanja di pasar tradisional karena order barang berbasis aplikasi. (suaramerdeka.com/Puji Purwanto)
Pedagang Pasar Wage Purwokerto merapikan dagangan. Masyarakat kini semakin mudah berbelanja di pasar tradisional karena order barang berbasis aplikasi. (suaramerdeka.com/Puji Purwanto)

Co-Fonder Beceer, Almira Faiz Faradilla menambahkan, saat ini mitra pedagang baru dari pedagang Pasar Wage Purwokerto. Namun, tidak menutup kemungkinan akan dikembangkan lagi ke beberapa pasar tradisional lain. Apalagi, di Banyumas terdapat banyak pasar tradisional. Ini menjadi potensi sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi generasi muda.  

"Semua komoditas di pasar tradisional bisa dipesan lewat aplikasi. Kami mencoba memodernisasikan pasar tradisional dan mendigitalisasikan produk di pasar tradisional," kata dia.

Berbasis Koperasi

Start up yang dibangun ini akan berbasis koperasi. Fonder dan Co-Fonder akan menekankan sistem demokrasi. Semua yang terlibat menjadi anggota. Bahkan, tidak menutup kemungkinan para pedagang pasar yang menjadi mitra menjadi anggota koperasi.

Berbeda dengan start up lain, biasanya dikuasai oleh pemodal. Sedangkan start up berbasis koperasi mengacu pada sistem jati diri koperasi. "Nantinya akan menjadi Co-op Worker (koperasi pekerja)," ujar Almira, didampingi Co-Fonder Beceer, Slamet Waluyo.

Perkembangan bisnis start up mendapat perhatian dari Innocircle Initiative. Lembaga ini merupakan inkubator start up Purwokerto yang juga turut mengembangkan ekosistem start up co-op bergeliat dan tumbuh di Banyumas.

"Kami sudah menginkubasi beberapa start up. Yang sudah tahap pendanaan ada 3 start up co-op. Sedangkan 15 start up lain masih dalam tahap prototype atau menentukan pasarnya," kata Fonder Innocircle Initiative, Anis Saadah.

Anis mengatakan semua start up yang diinkubasi ini tata kelolanya berbasis koperasi. Sebab, melihat ekosistem start up di luar sudah tidak sehat. Jadi apa yang terjadi di luar, mereka cuman punya ide dan dijual ke investor. Mereka dapat dana dan mengeksekusi tanpa mereka tahu apakah bisnis ini ada pasarnya atau tidak.

"Ini yang terjadi saat ini. Anak-anak muda hanya menjual ide saja tapi tidak bersungguh-sungguh sebagai entrepreneur," ujarnya.

Karena itu, Innocircle Initiative menawarkan alternatif model koperasi di mana pemilik ide, pemilik bisnis harus memiliki sasaran pasar terhadap barang dan jasa yang ditawarkan.

Halaman:

Editor: Nugroho

Terkini

X