Cegah Stunting, Masyarakat Yogyakarta Diperkuat Edukasi Isi Piringku

- Kamis, 2 September 2021 | 17:04 WIB
Peluncuran program Isi Piringku Berbasis Nilai Budaya Luhur di Yogyakarta (suaramerdeka.com/dok)
Peluncuran program Isi Piringku Berbasis Nilai Budaya Luhur di Yogyakarta (suaramerdeka.com/dok)

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Indonesia masih menghadapi permasalahan gizi anak. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat berdampak serius terhadap kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Selain stunting yang dialami oleh 30,8 persen anak-anak, mereka juga tidak mengonsumsi buah dan sayur yang cukup dimana hanya sekitar 10 persen anak yang mengonsumsinya dengan cukup.

Hal itu dipaparkan Penghageng KHP Nitya Budaya Keraton Yogyakarta, GKR Bendara saat peluncuran program Isi Piringku Berbasis Nilai Budaya Luhur di Yogyakarta.

Baca Juga: 85 Persen Warga Binaan di Semua Lapas Sudah Vaksinasi Dosis Kedua

"Angka stunting di DIY pada tahun 2020 tercatat 19,8 persen, lebih baik dari angka nasional yang mencapai 27 persen," katanya.

Dari 5 kabupaten/kota, kasus stunting paling banyak ditemukan di Gunungkidul sejumlah 17,44 persen, dan terendah di Sleman sebesar 8,38 persen.

Disampaikan Bendara, untuk mencegah stunting perlu kerjasama semua pihak.

"Sama halnya dengan bermain gamelan, untuk menciptakan harmoni memerlukan gotong royong sebagai kuncinya. Kita perlu menggali nilai budaya adiluhur dan mengemasnya kembali sebagai materi edukasi melalui PAUD sebagai lapisan paling mendasar untuk mencegah stunting," katanya.

Baca Juga: Wacana Amandemen UUD Tak Pengaruhi Jadwal Pilpres

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X