Masyarakat Liyangan Kuno Diperkirakan Paham Mitigasi Bencana

- Selasa, 10 September 2019 | 02:35 WIB
DOKUMENTASI : Awak media mendokumentasikan bebatuan kuno saat ekskavasi lanjutan di Situs Liyangan Desa Purbasari, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung, belum lama ini. (SM/ M Abdul Rohman
DOKUMENTASI : Awak media mendokumentasikan bebatuan kuno saat ekskavasi lanjutan di Situs Liyangan Desa Purbasari, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung, belum lama ini. (SM/ M Abdul Rohman

TEMANGGUNG, suaramerdeka.com - Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah memperkirakan masyarakat di Liyangan Kuno yang hidup di lereng Gunung Sindoro, telah memiliki tingkat pengetahuan mitigasi bencana cukup tinggi. Hal itu terlihat dari sejumlah hasil temuan di lokasi Situs Liyangan dalam kegiatan ekskavasi lanjutan di Dusun Liyangan Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, beberapa hari terakhir.

Pengolah Data Cagar Budaya BPCB Jawa Tengah, Winda Artista Harimurti mengungkapkan, sampai saat ini dari sejumlah penggalian di Situs Liyangan, telah ditemukan benda-benda rumah tangga seperti guci, periuk, kemudian pipisan yang merupakan salah satu indikasi bahwa lokasi tersebut dulunya merupakan sebuah permukiman penduduk. Hal itu diperkuat juga dengan telah ditemukannya arang gabah serta arang ijuk oleh para peneliti.

"Sepertinya daerah Liyangan itu pernah dihuni tidak hanya satu kali masa. Di dalam satu kawasan ini terdapat permukiman, ritual dan sekaligus lahan pertanian. Jadi beberapa kali bencana erupsi datang kemudian masyarakat mengungsi, setelah reda kembali lagi ke sini. Hal itu menunjukkan bahwa pengetahuan mitigasi bencana masyarakat Liyangan waktu itu untuk mobilisasi sosialnya sudah sangat tinggi," katanya.

Namun demikian, kata dia, dari penggalian yang dilakukan Balai Arkeologi maupun BPCB Jateng hingga saat ini pihaknya belum menemukan barang-barang perhiasan ataupun korban kerangka dalam jumlah banyak. Beberapa barang kuno juga didapatkan dari penggalian beberapa meter ke bawah. "Berarti waktu itu sebelum bencana itu benar-benar terjadi, masyarakat sudah mengungsi terlebih dahulu," beber dia.

Selanjutnya, setelah bencana reda dan tanah subur, masyarakat sepertinya kembali lagi ke permukiman tersebut untuk melakukan aktivitas kehidupan. Hal itu tampak sebagai contoh, di Situs Liyangan ada indikasi sebuah talud sebagian sudah menggunakan batu blok, tetapi sebagian diganti dengan bolder. "Hal itu kemungkinan saat di mana batu itu rusak kemudian ditambal lagi oleh masyarakat," tutur Winda.

Lebih lanjut dikatakan, berdasarkan kajian dari Balai Arkeologi Yogyakarata, aktivitas masyarakat Liyangan Kuno diperkirakan sudah dimulai sebelum Hindu masuk. BPCB Jawa Tengah bersama Mahasiswa Arkeologi dari UI dan UGM telah melakukan ekskavasi lanjutan di Situs Liyangan di Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung sejak tanggal 21 Agustus 2019 hingga 4 September 2019.

Sebelumnya, Kepala Kelompok Kerja (Kapokja) Pemugaran BPCB Jawa Tengah, Eri Budiarto berharap, kegiatan ekskavasi yang dilakukan ini dapat mengungkap batas halaman III dan membuka petirtaan. "Di bagian halaman I dan II ekskavasinya juga untuk mencari jejak struktur sebelumnya dilakukan restorasi (pengembalian atau pemulihan kepada keadaan semula-red), terhadap talud dan pagar,” ujar Eri.

Selain itu, ekskavasi juga bertujuan melakukan penjajakan, karena di sana banyak ditemukan temuan-temuan permukaan. Pihaknya melakukan penelitian pengalian percobaan, apakah di dalam temuan-temuan percobaan itu nanti ditemukan struktur-struktur. "Karena di bagian atas temuan permukaan ada bagian batu yang merupakan bagian atap sebuah bangunan makanya dicari jejaknya,” imbuh dia.

Editor: Achmad Rifki

Tags

Terkini

Volume Kubah Gunung Merapi Relatif Tetap

Sabtu, 31 Juli 2021 | 15:59 WIB

Kota Magelang Kembali Raih KLA Kategori Nindya

Jumat, 30 Juli 2021 | 15:54 WIB
X