Magelang Masih Level 4, Sekda Menduga karena 3 Hal Ini

- Selasa, 31 Agustus 2021 | 16:18 WIB
Sekda Kota Magelang, Joko Budiyono (suaramerdeka.com/Asef Amani)
Sekda Kota Magelang, Joko Budiyono (suaramerdeka.com/Asef Amani)

 

MAGELANG, suaramerdeka.com – Berdasarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) No 38 Tahun 2021 tertanggal 30 Agustus, Kota Magelang masih masuk dalam PPKM Level 4.

Kota Tidar tidak sendiri, bersama Kabupaten Purworejo menjadi daerah dengan insiden kasus Covid-19 sangat tinggi (level 4).

Menanggapi hal ini, Sekda Kota Magelang, Joko Budiyono menegaskan, Pemkot Magelang terus berupaya untuk memperbaiki pendataan kasus Covid-19 antara daerah, provinsi, dan pusat.

Baca Juga: Gaji Lili Pintauli Dipotong, No Problem! Intip dulu Rincian Tunjangannya

Pasalnya, acapkali perbedaan data membuat penanganan tidak relevan dengan kejadian di lapangan.

“Saya minta kepada Dinas Kesehatan untuk menanyakan ke Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Kesehatan RI, kenapa Kota Magelang tinggi.

Sebenarnya kasus aktif sudah sangat turun. Tambahan 1 kasus, aktifnya tinggal 95 kasus (per 29 Agustus),” ujarnya di kantornya, Selasa (31/8).

Baca Juga: 1.500 Siswa SMP di Lereng Merbabu Divaksin, Pilot Proyek di Kabupaten Semarang

Dia menuturkan, ada berbagai kemungkinan Kota Sejuta Bunga masih berlevel 4 assesmen pandeminya oleh pemerinta pusat.

Ia memperkirakan karena mortalitas (tingkat kematian) yang dianggap masih tinggi, positive rate belum standar, dan tracing kurang masif.

“Mungkin disebabkan mortalitasnya dianggap tinggi, positif ratenya dinilai belum sesuai standar, dan tracing kurang masif. Padahal, kondisi sekarang sudah menurun dan menurun," katanya.

Baca Juga: Meninggal dalam Tugas karena Covid, 10 Anggota DPR Digelari Pejuang Konstitusi, Siapa Saja Mereka?

Mortalitas masih dianggap tinggi, kata Joko, karena Kota Magelang adalah wilayah kecil yang hanya memiliki sekitar 128.000 jiwa.

Sementara pada level 4 ditetapkan jika angka kematian akibat Covid-19 lebih dari lima orang per 100.00 penduduk dalam satu daerah.

“Yang meninggal dunia akibat Covid-19 masih ada 1-2 jiwa sehari, sedangkan kita tidak boleh atau maksimal ada 1 saja angka kematiannya, karena hitungannya per 100.000 orang. Ini lah kenapa kita masih dianggap tinggi," jelasnya.

Baca Juga: Walubi Fasilitasi Vaksinasi Massal 150 Ribu Warga Jawa Tengah

Bapak yang juga Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 itu mengutarakan, Kota Magelang dengan luas wilayah 18,53 kilometer persegi ini merupakan daerah penyangga dalam testing swab.

Tidak jarang, hasil testing warga luar daerah tersebut justru masuk hitungan wilayah Kota Magelang.

Perbedaan data juga terjadi terkait presentase Bed Occupancy Rate (BOR) rumah sakit rujukan Covid-19.

Baca Juga: Dukung Pemerintah Tangani Pandemi, DPR: Semata-mata Demi Keselamatan Rakyat

Joko menyebutkan, dari total 30 persen BOR, hampir setengahnya adalah pasien asal luar daerah.

"Kita akan sepadankan data supaya tidak bercampur. Jadi, data antara pusat, provinsi, dan daerah itu sama," tandasnya.

Pihaknya memastikan Kota Magelang siap menjalankan PPKM Level 4 sampai dengan perubahan keputusan.

Pemkot Magelang tidak akan melakukan dikotomi atau membeda-bedakan penanganan menurut daerah asal karena Kota Magelang juga bergantung dari daerah lain.

“Termasuk vaksinasi, kami memfasilitasi penduduk luar daerah karena mereka bekerja dan berinteraksi dengan warga lokal.

Urusan kemanusiaan, kita tidak akan mengorbankan hal penting, demi perubahan status pandemi,” jelasnya.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Gading Paradise, Hadirkan Miniatur Eropa di Kebumen

Minggu, 5 Desember 2021 | 11:14 WIB

Akun Twitter Siskaee Lenyap, Ada Apa?

Sabtu, 4 Desember 2021 | 10:46 WIB

Disporapar Genjot Kemajuan Sektor Pariwisata

Jumat, 3 Desember 2021 | 22:21 WIB
X