Kominfo dan Pakar Hukum Bekali Mahasiswa FH UPS Tegal Melawan Hoaks

- Senin, 17 Juni 2019 | 17:40 WIB
Wakil Rektor II Bidang Administrasi dan Keuangan UPS Tegal Dr Moh Khamim SH MH, memberi ucapan selamat ke pakar hukum pidana Dr Noor Aziz Said SH MS, dan sejumlah pembicara lainnya usai seminar nasional tentang perang melawan hoaks, di Auditorium UPS Tegal.(suaramerdeka.com/Riyono Toepra)
Wakil Rektor II Bidang Administrasi dan Keuangan UPS Tegal Dr Moh Khamim SH MH, memberi ucapan selamat ke pakar hukum pidana Dr Noor Aziz Said SH MS, dan sejumlah pembicara lainnya usai seminar nasional tentang perang melawan hoaks, di Auditorium UPS Tegal.(suaramerdeka.com/Riyono Toepra)

TEGAL, suaramerdeka.com - Upaya menarik dan taktis, dilakukan Fakultas Hukum Universitas Pancasakti (UPS) Tegal. Mereka menggandeng Kementerian Kominfo Pusat, Dinas Kominfo Pemprov Jateng, dan pakar hukum, dengan membekali mahasiswanya untuk melawan hoaks, yang dinilai sudah meresahkan dan merugikan.

Dekan FH UPS Tegal Dr Achmad Irwan Hamzani SHi MAg mengatakan, agar berbagai jurus melawan berita atau informasi bohong alias hoaks itu dapat mengalir baik diterima mahasiswanya, dia merangkumnya dalam kegiatan seminar nasional bertajuk ''Literasi Hukum Sebagai Media Perangi Hoaks di Era Milenial'', di Auditorium UPS Tegal, Sabtu (15/6).

Dari Kementerian Kominfo Pusat hadir Kasubdit Literasi Digital Dit Pemberdayaan Informatika Aris Kurniawan. Kemudian Kepala Dinas Kominfo Pemprov Jateng Riena Retnaningrum SH. Dua pakar hukum pidana, Dr Fajar Ari Sudewo SH MH dan Dr Noor Aziz Said SH MS. Moderator, salah seorang pengajar di FH UPS Tegal Fajar Dian Ariyani SH MH.

Dua pembicara dari Kominfo Pusat dan Pemprov Jateng, banyak mengulas tentang apa itu berita hoaks. Kemudian bagaimana mengenali ciri-cirinya, dan berbagai cara untuk menyaring dan sharing informasi yang belum jelas kebenarannya.

''Selain itu, kita juga perlu mengetahui dampak dan sangsi hukum yang mengancamnya, jika sampai dilaporkan ke aparat penegak hukum bagi penyebar berita hoak. Baik dalam bentuk tulisan maupun foto atau gambar,'' terang Aris Kurniawan yang meraih Master International Communication Management dari The Haque University tahun 2010.
Pria kelahiran Banjarnegara September 1979, mengawali paparannya dengan membeberkan sejumlah contoh kasus hukum perkara dugaan berita atau informasi hoaks yang pernah disidangkan di pengadilan. 

Bahasanya Provokatif

Menurut dia, berita hoaks biasanya bahasanya lebih provokatif dan berdekatan dengan hal yang mudah diyakini dan dipercaya oleh seseorang atau khalayak ramai. ''Kita percaya berita hoax bukan karena kita mudah dibohongi. Tapi karena keterbatasan arus informasi yang datang,'' ucap Aris Kurniawan.

Di sisi lain, pemberitaan yang terus-menerus dapat membuat manusia jadi tertutup pada kebenaran. Apalagi faktanya, orang lebih tertarik dengan berita hoaks karena topiknya yang menarik dan unik. Oleh karena itu dengan mudah langsung percaya dengan hoaks.

Jadi berita hoaks tersebut berkaitan dengan hal yang dipercaya, maka kebohongan akan lebih mudah diterima. Padahal hoaks, bahayanya dapat jadi pembunuhan karakter. Karena faktanya manipulasi, ada kecurangan, yang dapat menjatuhkan orang lain. Hal itu juga dapat membuat keresahan, dan kepanikan publik. Selanjutnya terjadi polarisasi dan timbulah kecurigaan yang dapat berdampak perpecahan.

Halaman:

Editor: Adib Auliawan

Tags

Terkini

Pengurus Cabang IAKMI Se-Jateng Dilantik

Sabtu, 4 Februari 2023 | 15:45 WIB

Etika Digital dalam Bermedia Cegah Turbulensi Politik

Kamis, 2 Februari 2023 | 20:48 WIB
X