Pembakaran Alquran di Swedia, Aksi Biadab dan Bentuk Kegagalan Memahami Demokrasi

- Rabu, 25 Januari 2023 | 08:36 WIB
Ilustrasi Alquran (Pixabay.)
Ilustrasi Alquran (Pixabay.)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Aksi biadab dan provokatif pembakaran salinan Alquran dilakukan politikus Swedia-Denmark anti imigran dari sayap kanan, Rasmus Paludan di Stockholm.

Aksi biadab dan provokatif berupa pembakaran Alquran ini sudah melukai 1,5 miliar muslim dunia sekaligus menunjukan islamofobia masih menjadi persoalan serius.

Hingga kini, kecaman terus mengalir dari seluruh dunia Arab dan Islam atas aksi pembakaran Alquran tersebut.

Baca Juga: Fluktuasi Harga Pangan Jadi Faktor yang Pengaruhi Prevalensi Angka Stunting Indonesia

Indonesia sendiri melalui Kementerian Luar Negeri RI mengutuk keras aksi pembakaran Alquran ini.

"Pelaku pembakaran salinan Alquran ini lebih tepat disebut ekstremis dari pada seorang politikus. Ini aksi biadab dan provokatif dan bentuk kegagalan dalam memahami demokrasi dan kebebasan berekspresi," tegas Anggota DPD RI, Fahira Idris.

Disebutkan, Pemerintah Swedia tidak cukup hanya mengecam tetapi harus mengambil tindakan tegas atas peristiwa pembakaran Alquran.

Baca Juga: Bacakan Pledoi di Pengadilan, Ferdy Sambo Ungkap Prestasinya: Saya Telah Dianugerahi...

"Islamofobia harus dilawan bukan hanya oleh negara mayoritas muslim, tetapi oleh seluruh negara di dunia," tegas Fahira Idris.

Menurut Fahira Idris apa yang dilakukan Rasmus Paludan sejatinya adalah bentuk teror terhadap umat muslim di seluruh dunia.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X