Yahya Staquf Tawarkan Strategi Perdamaian Global Model NU, Dipuji di IRF Summit

- Minggu, 18 Juli 2021 | 06:25 WIB
Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf saat menyampaikan pidato dalam acara International Religious Freedom (IRF) Summit, di Washington, DC, Amerika Serikat. (suaramerdeka.com / dok)
Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf saat menyampaikan pidato dalam acara International Religious Freedom (IRF) Summit, di Washington, DC, Amerika Serikat. (suaramerdeka.com / dok)

WASHINGTON DC, suaramerdeka.com - Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf mendapatkan apresiasi tinggi dari tokoh-tokoh perdamaian global di ajang International Religious Freedom (IRF) Summit, di Washington, DC, Amerika Serikat, Kamis (15/7), waktu setempat.

Pada hari ketiga konferensi tingkat tinggi (KTT) tersebut, Yahya Staquf menyampaikan pidato kunci dengan judul “The Rising Tide of Religious Nationalism” (Pasang Naik Nasionalisme Religius).

Dalam siaran pers yang dikirim ke redaksi, putra almaghfurlah KH Cholil Bisri Rembang itu mengatakan, fenomena bangkitnya nasionalisme religius adalah bagian mekanisme pertahanan ketika suatu kelompok agama yang biasanya merupakan mayoritas di negaranya merasa terancam secara budaya.

Baca Juga: Coba Buktikan, Singel Ke-8 dalam Album Tembang Katresnan

Kebangkitan ini pun, lanjut dia, tak terelakkan lantaran dunia tengah bergulat dalam persaingan antar-nilai untuk menentukan corak peradaban di masa depan.

Di sisi lain, katanya, dinamika internasional telah mengarah pada perwujudan satu peradaban global yang tunggal dan saling berbaur (single interfused global civilization).
 
Dikatakan, persaingan yang sengit ini berpotensi besar memicu permusuhan dan kekerasan. Oleh karena itu, Yahya Staquf mendorong berbagai elemen di dunia menemukan cara untuk mengelolanya sebelum telanjur meletus konflik global yang kian parah.

Untuk mengatasi hal itu, Gus Yahya Staquf menawarkan strategi dan model perdamaian dunia sebagaimana yang selama ini telah dipraktikkan oleh kalangan Nahdlatul Ulama (NU).

Baca Juga: Sounday Angkat Tema Toxic Relationship di Lagu 'Benci Cintamu'

Dalam kesempatan itu, juru bicara era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini menjelaskan, sebelum mewujudkan kedamaian global, harus diidentifikasi lebih dahulu nilai-nilai apa yang selama ini telah menjadi kesepakatan bersama.

“Saya bisa sebut nilai-nilai kejujuran, kasih-sayang dan keadilan, adalah nilai-nilai yang pasti kita sepakati secara universal,” kata pengasuh pondok pesantren Roudlotut Tholibien, Leteh, Rembang itu.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X