COP 26 Glasgow Bahas Potensi Unik Pertanian dalam Mengatasi Perubahan Iklim

- Selasa, 9 November 2021 | 06:15 WIB
Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Laksmi Dhewanthi, MA. (suaramerdeka.com / dok)
Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Laksmi Dhewanthi, MA. (suaramerdeka.com / dok)

GLASGOW, suaramerdeka.com - Pekan pertama Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim PBB atau Conference of the Parties (COP 26) yang diselenggarakan di Glasgow, Inggris mulai 31 Oktober lalu, telah selesai.

COP 26 sendiri membahas isu penting terkait dengan kerentanan pertanian terhadap perubahan iklim dan penanganan ketahanan pangan.

“Koronivia Joint Work on Agriculture (KJWA) adalah keputusan penting di bawah Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) yang mengakui potensi unik pertanian dalam mengatasi perubahan iklim,” ungkap Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Laksmi Dhewanthi, MA dalam keterangan tertulis dari Glasgow, Senin 8 November 2021.

Laksmi ikut hadir dalam pertemuan COP 26 hingga Sabtu tengah malam waktu Inggris itu.

Baca Juga: Begini Peran Song Hye Kyo di Drama Now We Are Breaking Up, Penasaran?

Dari lima rangkaian seri pertemuan penting yang dilakukan paralel dalam COP 26, dua di antaranya adalah agenda Subsidiary Body for Scientific and Technological Advice (SBSTA) dan Subsidiary Body for Implementation (SBI) mendapat mandat untuk melakuan pembahasan hingga 6 November lalu dan sudah selesai.

Pertemuan ini mengadopsi beberapa keputusan-keputusan yang memang sampai tahap SBSTA dan SBI, ada pula isu-isu yang akan dilaporkan pada presidensi dan akan dilanjutkan sesi CMP 16, CMA3, maupun di COP 26.

Baik SBI dan SBSTA sudah mengadopsi keputusan terkait hasil work frame dari Koronivia Joint Work on Agriculture (KJWA).

Jadi pada prinsipnya KJWA merupakan salah satu keputusan penting di bawah Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) yang mengakui potensi unik pertanian dalam mengatasi perubahan iklim.

Baca Juga: Konflik Musala Nurul Ikhlas Petempen, Masyarakat Merasa Dikempongi Pihak MG Suites

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Presiden Serbia: Djokovic dapat Informasi Menyesatkan

Senin, 17 Januari 2022 | 18:18 WIB

Kazakhstan Bergejolak, Dipicu Kenaikan Bahan Bakar

Sabtu, 8 Januari 2022 | 17:32 WIB

Florona di Israel Muncul saat Lonjakan Pasien Omicron

Selasa, 4 Januari 2022 | 14:18 WIB
X