• KANAL BERITA

Mahasiswa UPGRIS Berpeluang Magang Kuliah Luar Negeri

Kesempatan bagi mahasiswa program keguruan Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) terbuka lebar buat magang kuliah ke luar negeri, seperti yang telah terealisasi beberapa tahun terakhir. Sepanjang memenuhi persyaratan dan menguasai bahasa Inggris, mereka berpeluang berangkat luar negeri menuju ke sejumlah negara seperti Jepang, Malaysia, dan Filipina. Selain memperkaya ilmu dan menambah pengalaman, mereka sepulang dari luar negeri kadang bisa menemukan referensi untuk menentukan masa depannya.

Rektor UPGRIS, Dr Muhdi MHum mengatakan, ada Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) ke Malaysia dan Filipina untuk program keguruan. Melalui program South East Asia Technical dan Vocation Education (SEA Tvet), mahasiswa bisa melakukan magang internasional seperti ke Jepang. PPL maupun magang internasional itu program menarik, sehingga mahasiswa yang berminat harus segera menyiapkan paspor. Mereka yang sudah memiliki pengalaman magang luar negeri, mau jadi guru di negara lain pun bisa.

Dulu ada yang ingin jadi Aparatur Sipil Negera (ASN), tapi setelah pulang magang internasional malah menjadi pengusaha. "Program PPL atau magang itu bisa diikuti mahasiswa, siapa saja punya kesempatan, salah satu syaratnya punya paspor. Itulah cara UPGRIS memicu mahasiswa agar memiliki wawasan global," kata Muhdi, dalam Ngopi Bareng Suara Merdeka bertemakan "Magang Kuliah Luar Negeri" di gedung pusat kampus UPGRIS, Rabu (9/10).

Diskusi diikuti ratusan mahasiswa UPGRIS dengan moderatornya, Lawu. Pada kegiatan itu juga difasilitasi pemeriksaan kesehatan gratis dari Rumah Sakit (RS) William Booth. Hadir pula Direktur Sales dan Komunikasi Suara Merdeka Bambang Pulunggono, Direktur Operasional Heru Djatmiko, Wakil Pemimpin Redaksi, Agus Toto Widyatmoko, Kepala Kanwil Semarang, Doni Setiyo Nugroho, Manager Marcomm, Agung Mumpuni yang akrab disapa, Unik.

Dua mahasiswa UPGRIS juga dihadirkan jadi narasumber, sekaligus memberikan penjelasan terkait kegiatan magang internasional yang telah dijalaninya. Mereka ialah mahasiswa program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Ilmu Pendidikan, UPGRIS Anandya Putri Vebalita dan mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), UPGRIS Fitro Bagus Firmansyah.

Menurut Anandya, penguasaan bahasa Inggris jadi salah satu kunci bagi mahasiswa bisa magang internasional. "Saya magang internasional selama 28 hari di Malaysia. Dalam magang, kami banyak belajar dan menemukan hal baru," jelasnya.

Kesiapan mental dan rasa percaya diri juga dibutuhkan bagi mahasiswa yang hendak mengikuti jejaknya dalam magang internasional. Di sisi lain, Fitro mengaku menjalani program mengajar di Filipina.

"Ada yang beda dari sistem pembelajaran, di Filipina cara mengajarnya berbasis aplikasi teknologi. Dalam mengajar, guru juga menyertakan game seru untuk membuat siswanya tertarik," katanya.

Sebab, sistem belajar berbasis buku dinilai kurang menarik. Sebelumnya, Bambang Pulunggono mengapresiasi UPGRIS yang membuka pintu lebar-lebar untuk acara Ngopi Bareng Suara Merdeka. Kegiatan ini pernah dilakukan di Balai Kota Semarang dan kampus, tujuannya mendekatkan Suara Merdeka dengan pembacanya.


(Royce Wijaya, Imam Supriono/CN35/SM Network)