Jangan Telan Mentah-mentah Hoaks

SM/Henry Sofyan  - SALAMI PEMATERI : Kapolres Temanggung AKBP Wiyono Eko Prasetyo menyalami pemateri seusai paparan mengenai penanggulangan terorisme, deradikalisi, dan intoleransi . (23)
SM/Henry Sofyan - SALAMI PEMATERI : Kapolres Temanggung AKBP Wiyono Eko Prasetyo menyalami pemateri seusai paparan mengenai penanggulangan terorisme, deradikalisi, dan intoleransi . (23)

TEMANGGUNG - Menyebarkan informasi hoaks atau bohong yang tidak benar adanya, berarti sama saja dengan memberikan sesuatu yang buruk. Informasi hoaks tersebut bisa berdampak menimbulkan keresahan, dan dapat pula memengaruhi orang lain untuk berperilaku tertentu, termasuk yang negatif.

Hal itu dikatakan Kapolres Temanggung AKBP Wiyono Eko Prasetyo ketika menyampaikan paparan mengenai penanggulangan terorisme, deradikalisi, dan intoleransi, pada acara ”Gerakan Santri Menulis Sarasehan Jurnalistik Ramadan” di Pondok Pesantren Al Huda, Temanggung, Senin (4/6).

”Saya begitu terkesan pada video viral dari para santri, yang tidak menginginkan terjadi perpecahan sesama anak bangsa karena dipicu berita hoaks,” tandasnya.

Menurutnya, berita-berita hoaks yang kini marak di media sosial, apabila ditelan mentah-mentah atau tanpa diteliti dan dipastikan kebenarannya, dimungkinkan menjadi pemicu perpecahan anak bangsa.

Terutama, jika yang disebarkan ialah menyangkut sentimen SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan). ”Seseorang berbuat radikal dan melakukan teror, bisa hanya karena terpengaruh oleh berita atau pengetahuan yang sebetulnya adalah hoaks,” ujarnya.

Kapolres mencontohkan, salah seorang perempuan asal Kabupaten Temanggung yang akan melakukan teror dengan berupaya menusuk aparat polisi di Mako Brimob menggunakan gunting, beberapa waktu lalu, setelah diselidiki ternyata dia terpengaruh oleh pengetahuan yang dipelajarinya lewat media sosial.

”Ketika menjadi santri pondok pesantren sembari sekolah di SMK di Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal, dia anak-anak yang biasanya saja.

Keluarganya di Kecamatan Gemawang, Temanggung, juga petani biasa, sehingga sangat mengagetkan ketika diketahui dia berperiku seperti itu,” tuturnya.

Wawasan Pengetahuan

Adapun Asisten I Setda Temanggung, Suyono, yang mewakili Pjs Bupati Sudaryanto, dalam sambutannya mengatakan, berbagai kegiatan dalam upaya pendidikan karakter kepada remaja diperlukan, salah satunya melalui pelatihan jurnalistik tersebut.

”Kami berharap, pelatihan jurnalistik ini, selain mengajari anak-anak keterampilan menulis, juga membuka wawasan pengetahuan mereka terutama menyangkut pendidikan karakter.

Sehingga, anak-anak tidak bersikap radikal dan intolerans,” ujarnya saat membuka acara gerakan santri menulis tersebut.

Pemimpin Redaksi Suara Merdeka, Gunawan Permadi, dalam sambutannya mengatakan, menulis tidak hanya sekadar menulis akan tetapi di dalam tulisan tersebut juga perlu memberikan penjelasan dan pemaknaan, sehingga dapat memberikan sumbangsih dan pencerahan bagi masyarakat. (Henry Sofyan-23)


Baca Juga
Loading...
Komentar