SANTRI MENULIS

Ingin Menulis Selamanya

SM/Henry Sofyan  -  PERHATIKAN PAPARAN : Para peserta ”Gerakan Santri Menulis Sarasehan Jurnalistik Ramadan”, memperhatikan paparan narasumber di Pondok Pesantren Al Huda, Temanggung, Senin (4/6). (23)
SM/Henry Sofyan - PERHATIKAN PAPARAN : Para peserta ”Gerakan Santri Menulis Sarasehan Jurnalistik Ramadan”, memperhatikan paparan narasumber di Pondok Pesantren Al Huda, Temanggung, Senin (4/6). (23)

IMTIHANI (16) tampak semringah saat mengikuti pelatihan jurnalistik di pondok pesantren Al Huda Jampirejo Temanggung, Senin (4/6). Tak hanya mendapatkan ilmu yang semula belum pernah didapatkan, namun semacam ada aura lebih dari hal-hal yang berkaitan dengan kepenulisan.

Dia tidak sendiri menikmati tiap materi menulis yang disampaikan. Dia bersama 92 orang santri baik putra juga putri berpartisipasi dalam acara Gerakan Santri Menulis yang digelar Suara Merdeka tersebut.

Imtihani, juga santriwati lain Iis Faizah (17) mengaku baru kali pertama mengenyam pendidikan singkat seputar jurnalistik.

”Saya baru kali pertama mengikuti pelatihan jurnalistik. Sangat berkesan,” kata Imtihani. Santri asal kecamatan Kledung ini jauhjauh datang ke Jampirejo bukan tanpa alasan.

Dia diundang pengurus ponpes Al Huda untuk mengikuti safari jurnalistik yang memang jarang digelar di Temanggung. Dia memiliki tujuan, setidaknya dia dan teman-temannya mengakui bahwa belajar menulis kali pertama bikin ketagihan.

”Saya mencoba menulis tadi siang dan ingin menulis lagi. Saya ingin menulis selamanya,” kata dia bersemangat. Inilah salah satu kekuatan penting yang berasal dari santri yang termotivasi untuk selalu menulis.

Mereka mengaku dari pemberian materi penulis profesional di Suara Merdeka tersebut telah melecut dia untuk selalu berkarya melalui tulisan.

Imtihani dan Iis menegaskan menulis bakal membuatnya kuat. Dia menyitir ucapan yang pernah disampaikan oleh Imam Al-Ghazali, penulis buku Ihyaí Ulum al-Dien ”Jika kamu bukan anak raja, bukan juga anak orang kaya dan penguasa, maka menulislah.”

Penulis Andal

Di hamparan aula pondok pesantren yang luas dan nyaman inilah harapan santri yang jumlahnya puluhan itu tertanam. Dari lima orang santri yang ditemui mengaku ingin menjadi penulis andal yang menghasilkan banyak buku agar dibaca seluruh umat di dunia.

Al-Ghazali menyuruh menulis jika kita bukan anak raja atau bukan pula anak ulama besar. Raja di sini dapat dipahami sebagai pejabat tinggi negara. Pun jika kita anak ulama besar, maka santri juga ada kemungkinan akan dikenal oleh banyak orang.

Bahkan ilmuilmu yang dimiliki orang tua kita bukan tidak mungkin terserap oleh kita yang kemudian membuat kita tumbuh pula menjadi seorang cendekiawan.

Kecendekiawanan inilah yang kelak akan mengantarkan kita ”terkenal” dan membawa kita menjelajah ke mana-mana.

”Saya ingin menulis agar bermanfat dan dikenal banyak orang lewat karyakarya,” kata Iis, santri putri senior ponpes Al Huda.

Maka, menulis menjadi salah satu pilihan cerdas agar santri bisa hidup selamanya. Selamanya dalam arti selalu dikenang oleh banyak orang meski kita telah tiada.

Mengapa demikian? Pengurus ponpes Al Huda Ridwan Setiaji mengatakan menulis merupakan upaya untuk menyampaikan ide atau gagasan.

Dari situlah perubahan-perubahan besar dapat dilakukan. Betapa tidak, sedikit sebuah perubahan peradaban manusia dimulai dari sebuah ide yang dituangkan dalam bentuk tulisan.

Dari tulisan itulah orang terinspirasi lalu termotivasi melakukan perubahan.”Saya ingin pelatihan menulis digelar setiap tahun di pondok,” katanya.

Ide atau gagasan yang dimiliki para santri Ridwan berharap bisa dituangkan dalam bentuk tulisan, baik itu berupa artikel di media massa maupun buku sehingga bisa mengantarkan mereka melanglang buana. (Edy Purnomo-23)


Baca Juga
Loading...
Komentar