Yakin Akan Mulai Menulis

SM/Asep Abdullah : JADI REPORTER : Seorang santri berperan sebagai reporter saat Gerakan Santri Menulis di Ponpes Al Fattah, Sukoharjo, Minggu (3/6). (23)
SM/Asep Abdullah : JADI REPORTER : Seorang santri berperan sebagai reporter saat Gerakan Santri Menulis di Ponpes Al Fattah, Sukoharjo, Minggu (3/6). (23)

TUJUH jam lebih santriwan dan santriwati ”digembleng” ilmu penulisan umum, jurnalistik hingga fotografi dalam ajang Gerakan Santri Menulis yang digelar Suara Merdeka di Ponpes Al Fattah, Dukuh Krapyak RT 1 RW 10, Kelurahan/Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Minggu (3/6).

Sejak ditabuh hingga selesai, 160 peserta gembira mengikuti acara tersebut. Kegembiraan di antaranya terpancar pada wajah Septi Wulandari. Gadis 19 tahun itu tampak semangat mengikuti Gerakan Santri Menulis bertajuk Sarasehan Jurnalistik Ramadan 2018 tersebut.

Apalagi saat pemateri, Sri Syamsiah LS (Kepala Desk Solo Metro) menantang peserta untuk menjadi seorang reporter sungguhan di depan rekan-rekannya. ”Saya bu,” celetuk mahasiswi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Surakarta dengan suara cukup lantang sembari tunjuk jari. Tidak berhenti di situ, gadis asal Grobogan yang baru setahun menimba ilmu agama di ponpes yang diasuh KH Muhammad Mahbub itu, lantas menunjukkan keberaniannya merangkai katakata hingga menjadi kalimat. Tanpa ragu dia membacakan apa yang ada dalam pikirkannya itu menjadi sebuah berita tentang sarasehan tersebut. Tepuk tangan dan ger-geran dari rekan-rekannya yang menyaksikan, sesekali menyela. ”Kalau saya buat judul, acara ini jadinya Menggelorakan Budaya Literasi untuk Santri,” tutur dia disambut meriah.

Begitu juga dengan Iqbal Syahrul Akbar Al Aziz (18). Santri yang saat ini juga kuliah di IAIN Surakarta yang malangmelintang dari ponpes satu ke ponpes lain sejak SMPitu, tidak ragu menerima tantangan maju di depan layaknya menjadi wartawan.

Pengeras suara langsung diambil. Bagi dia, kegiatan sarasehan sejak pukul 10.00 hingga menjelang buka puasa, pukul 17.00, terasa singkat. ”Soalnya mengena. Pas banget. Saya jadi yakin akan memulai menulis,” jelas pemuda asal Karawang, Jawa Barat itu.

Budaya Menulis

Ya, itulah gambaran salah satu interaksi dalam Gerakan Santri Menulis yang dibuka langsung oleh Wakil Bupati Sukoharjo, Purwadi mewakili Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya bersama Ketua Panitia, Agus Fathuddin Yusuf dan pengasuh Ponpes Al Fattah, KH Muhammad Mahbub.

Adapun dari Redaksi Suara Merdeka di antaranya dihadiri oleh Wakil Pemimpin Redaksi Agus Toto Widyatmoko, Koordinator Liputan Rukardi, Kepala Desk Solo Metro, Sri Syamsiah LS, dan Kepala Biro Solo Metro, Setyo Wiyono.

Bahkan lebih heboh lagi saat pemateri lain, Rukardi yang mengevaluasi hasil tulisan jurnalistik para santri. Dengan gayanya yang kalem, Koordinator Liputan Suara Merdeka itu lantas mengupas satu persatu karya mereka. Disela-sela penilaian dan pemberian materi, dia berkali-kali mengingatkan santriwan dan santriwati untuk memulai untuk menulis. ”Apapun itu, mulailah menulis. Jika berat, mulai menulis story diri sendiri. Ya, minimal kalau santriwati belajar menulis diary dululah,” katanya.

Pengasuh Ponpes Al Fattah, KH Muhammad Mahbub juga mendorong 160 santriwan dan santriwati untuk mulai menggerakkan budaya menulis. Mengingat dewasa ini masyarakat seakan mengalami ”jajahan informasi” melalui berita bohong (hoaks) di media sosial (medsos). Paling tidak dengan Gerakan Santri Menulis, akan mencerdaskan dan meneguhkan niat bagi santri untuk menulis kebaikan. ”Santri bisa berkontribusi dalam pembangunan lewat tulisan-tulisannya,” harapnya. ( A s e p Abdullah-23)


Baca Juga
Loading...
Komentar