Menulis adalah Tugas Keagamaan

SM/Ryan Rachman  -  PRAKTIK MENULIS : Para peserta Gerakan Santri Menulis, Sarasehan Jurnalistik Ramadan Suara Merdeka antusias praktik menulis berita. (54)
SM/Ryan Rachman - PRAKTIK MENULIS : Para peserta Gerakan Santri Menulis, Sarasehan Jurnalistik Ramadan Suara Merdeka antusias praktik menulis berita. (54)

GADIS kecil berkerudung itu curhat, dia sering ditanyakan oleh ibunya. Untuk apa sih dia menulis, sedangkan menulis tidak dapat menghasilkan uang? Toh lebih baik ngidep alias membuat bulu mata yang jelas ada uangnya.

”Padahal saya sangat suka menulis. Saya bingung ngasih tahu ke orang tua. Bagaimana menjelaskannya?” kata Tania Rahayu (16).

Sepenting apakah dunia tulis-menulis? Tanya Wakil Pemimpin Redaksi Suara Merdeka, Triyanto Triwikromo. Nabi Muhammad SAW mendapat perintah pertama dari Allah SWT untuk membaca. Nah, kalau membaca, tentu ada tulisan.

Jadi, jika ada perintah membaca, ada perintah tersembunyi yaitu menulis. ”Orang yang menulis adalah beribadah. Dia melakukan tugas keagamaan. Menulis juga merekam jejak sekaligus sejarah. Apa yang ditulis saat ini akan dibaca sepuluh tahun ke depan.

Menulis itu mencatat untuk melawan lupa atau mendirikan monumen-monumen ingatan,” kata Triyanto saat membuka Gerakan Santri Menulis di Ponpes Yayasan Islam Nurul Barokah (Yinuba) Desa Beji, Kecamatan Bojongsari, Kabupaten Purbalingga, Sabtu (2/6). Lalu, kenapa santri harus menulis? Gus Dur dan Gus Mus adalah santri yang tulisannya luar biasa.

Suara Merdeka bergerak untuk mengajak santri menulis agar bisa seperti kedua kiai itu. Santri harus berperan menjadi bangsa yang manusiawi, sabar dan tidak gampang dipecah belah.

Para santri memiliki kecerdasan, ketangkasan, ketawakalan yang luar biasa dan religiusitas tinggi. ”Modal jadi jurnalis apa harus kuliah?” tanya Imas Hani, siswa MAYinuba kepada moderator, Mohammad Syukron.

Tabayun

Modal menjadi jurnalis, jawab Redaktur Pelaksana Suara Merdeka, Hasan Fikri adalah harus sehat dan daya ingat yang cerdas. Soal kuliah dan ijazah, itu administratif. Dia memberikan rumus baku menulis berita pendek yaitu 5W 1H.

Dia mengajak para peserta membaca koran, lalu menganalisis 5W 1H tersebut. ”Membuat berita yang baik, tidak satu arah. Karena itu penting tabayun. Selain itu, tidak ada berita tanpa peristiwa dan narasumber.

Jadi menulis berita tidak bisa mengarang,” katanya. Redaktur Desk Banyumas Suara Merdeka, Tavif Rudiyanto lebih menekankan agar para calon penulis harus lebih serius dalam berbahasa Indonesia dengan benar.

Sebab, menulis berawal dari bahasa, jika cara berbahasa kita salah, maka tulisan kita akan salah pula. Adapun Koordinator Liputan Suara Merdeka, Nugroho Dwi Adhiseno menjelaskan tentang foto jurnalistik.

Foto digunakan untuk memperkuat isi berita, karena itu ambilah foto sebanyak mungkin dari berbagai sudut pandang. (Ryan Rachman-54)


Baca Juga
Loading...
Komentar