Gerakan Santri Menulis di Ponpes El Bayan Majenang, Cilacap

Miniatur Muslim Tanah Air

SANTRI MENULIS

SM/Teguh Hidayat Akbar - FOTO BERSAMA: Para peserta Gerakan Santri Menulis Sarasehan Jurnalistik Ramadan 2018 di Ponpes El Bayan, Majenang, Cilacap berfoto bersama dengan Plt Kepala Diskominfo M Wijaya dan para pengasuh pondok pesantren. (54)
SM/Teguh Hidayat Akbar - FOTO BERSAMA: Para peserta Gerakan Santri Menulis Sarasehan Jurnalistik Ramadan 2018 di Ponpes El Bayan, Majenang, Cilacap berfoto bersama dengan Plt Kepala Diskominfo M Wijaya dan para pengasuh pondok pesantren. (54)

PONDOK pesantren El Bayan laksana miniatur muslim Indonesia. Di ponpes yang berada di Bendasari, Padangsari, Majenang, Cilacap, tak jauh dari jalan utama di jalur selatan yang menghubungkan Bandung-Purwokerto itu, ribuan santri berasal dari berbagai penjuru Tanah Air.

Latar belakang itulah menarik perhatian tim Gerakan Santri Menulis, Sarasehan Jurnalistik Ramadan Suara Merdeka, Jumat (1/6). Bersama perwakilan dari Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, dan Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) Universitas Terbuka (UT) Purwokerto, mereka mendapati para santri bicara dengan logat dan bahasa yang berbeda-beda. Gerakan Santri Menulis di Ponpes El Bayan dibuka Kepala Dinas Kominfo Cilacap, M Wijaya, yang datang mewakili Bupati Cilacap.

Ponpes El Bayan memiliki tak kurang dari 1.000 santri. Selain dari Jawa, mereka berasal dari banyak pulau lainnya termasuk Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. ”Bahkan saat ini ada dua santri yang berasal dari Malaysia,” ujar Dewan Pengasuh Ponpes El Bayan, KH Imam Subky Najmudin.

Gerakan Santri Menulis yang merupakan acara tahunan Suara Merdeka saban Ramadan, memberikan pelatihan untuk para santri agar bisa menuangkan gagasan dalam tulisan yang baik. Minat para santri untuk gerakan ini begitu luar biasa. Bahkan dalam sesi tanya jawab, seperti tak cukup waktu.

”Kegiatan di sini menjadi satu dari sejumlah tempat yang mendapatkan apresiasi dan minat tinggi dari para peserta. Tentu hal ini sangat bagus untuk bekal bagi anak-anak,” ungkap Koordinator Panitia Sarasehan Jurnalistik Ramadan, Agus Fathudin Yusuf. Apresiasi serupa disampaikan Kepala Biro Suara Merdeka Banyumas, Sigit Oediarto.

Ia mengatakan, kegiatan ini bertujuan menyebarkan virus positif bagi para santri untuk gemar menulis. Ketua Yayasan El Bayan, Fathul Aminudin Aziz mengatakan, minat tinggi para santri tidak lepas dari upaya genjar agar santri aktif menulis. Apalagi ponpesnya memiliki basis informasi teknologi.

”Coba kita renungkan, bagaimana kita bisa mengenal tokoh penting seperti Imam Al Ghozali, tentu karena ilmu yang dituliskan,” katanya. Adapun Kepala UPBJJ UT Purwokerto, Raden Sudarwo, memberi pemahaman tentang kemudahan kuliah di UT.

Terutama waktu perkuliahan yang bisa disesuaikan dengan kesibukan kerja. Bahkan model perkuliahan di kampus itu menggunakan sistem online. ”Kemudahan kuliah di UT, itu bisa nyambi kerja, apalagi online. Jadi sangat mudah karena bisa seiring sejalan,” paparnya.

Sementara Kepala UPT Pemasaran dan Humas Unissula, Dedi Rusdi, memaparkan tentang kondisi perguruan tinggi Islam terbesar dan tertua di Semarang. Kelebihan universitas di antaranya memadukan antara kebutuhan dunia dan kebutuhan akhirat secara bersama-sama.

”Nilai-nilai keislaman inilah yang menjadi ruhnya Unissula, yang memiliki program studi dari D3, S1, S2 sampai S3. Sehingga cukup tepat untuk jenjang pendidikan lanjutan bagi para santri El Bayan,” kata dia. (Teguh Hidayat Akbar-54)


Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar