Batin Puas saat Tulisan Bermanfaat

Gerakan Santri Menulis Suara Merdeka di UMPAda

SM/Dian Aprilianingrum : FOTO BERSAMA: Peserta berfoto bersama saat pembukaan Gerakan Santri Menulis di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Kamis (31/6).(59)
SM/Dian Aprilianingrum : FOTO BERSAMA: Peserta berfoto bersama saat pembukaan Gerakan Santri Menulis di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Kamis (31/6).(59)

ADA yang minat jadi wartawan?” tanya Fahmi Zulkarnaen, pemandu acara kegiatan Gerakan Santri Menulis, Sarasehan Jurnalistik Ramadan Suara Merdeka, di kampus Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Kamis (31/5) lalu, kepada peserta.

Dari sudut bangku bagian pinggir, muncul suara keras salah satu peserta menjawab dan memecah suasana yang awal terasa formal. ”Saya tertarik (jadi warta-wan- Red) Pak,” jawab Marlina Akbar, peserta dari Purbalingga ini.

Karena penasaran, Fahmi pun menghampiri dan akhirnya diajak maju ke depan peserta yang lain. Tanpa rasa malu dan canggung, Marlina mampu mengimbangi pembawaan kocak Fahmi.

Dialog pun berlangsung cukup lama di antara keduanya. Gadis mungil berjilbab ini juga diketahui merupakan alumni gerakan santri menulis Suara Merdeka tahun lalu, yang diadakan di salah satu pondok pesantren Bukateja, Purbalingga. ”Saya tertarik mengikuti kegiatan ini lagi, karena ingin mengetahui lebih jauh seperti apa si profesi wartawan,” ungkao penyiar RKM Purbalingga ini.

Ceritakan Pengalaman

Dia menceritakan, sejak SMP sudah sering membaca koran terbesar di Jateng ini. Baginya, bekerja sebagai jurnalis dianggap menyenangkan, karena banyak bertemu dengan orang, melatih menulis dan terasah mentalnya. Sarasehan ini tidak sekadar seperti model tutorial semata, materi disampaikan, kemudian terjadi dialog. Misalnya, saat Koordinator Liputan Suara Merdeka, Rukardi menceritakan awal sebagai wartawan ploting di Semarang.

Salah satu tulisan feature-nya mengangkat kegigihan salah satu warga Tambak Blorok, korban bencana rob, bertahan dari kepungan banjir rob. Dari tulisan tersebut tanpa disangka, mampu mengugah kepedulian dari warga masyarakat lain yang membaca tulisannya. ”Hasil reportase (tulisan-Red) kita, juga bisa dimaknai ibadah, karena bisa membantu orang lain. Jadi ada kepuasan batin tersendiri. Makanya jadi wartawan tidak sekadar cari penghasilan,” kisahnya.

Pengalaman serupa diungkapkan Fahmi Zulkarnain, Kepala Biro Semarang, kalau bukan karena hobi, dia saat itu memastikan tetap bekerja di bidang yang lain dengan gaji yang lebih besar. Tantangan ini, diakui juga memberikan banyak pengalaman.( Agus Wahyudi-59)


Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar