Gerakan Santri Menulis Perlu Diperluas

SM/M Noor Efendi  -  FOTO BERSAMA : Santri Pondok Pesantren Manba’ul Ulum Desa Pakis, Kecamatan Tayu, Pati, foto bersama dengan pengasuh KH Muhammad Aniq Muhammadun, Bupati Pati Haryanto, dan Wapemred Suara Merdeka Triyanto Triwikromo seusai pembukaan Gerakan Santri Menulis, Sarasehan Jurnalistik, Sabtu (26/5). (51)
SM/M Noor Efendi - FOTO BERSAMA : Santri Pondok Pesantren Manba’ul Ulum Desa Pakis, Kecamatan Tayu, Pati, foto bersama dengan pengasuh KH Muhammad Aniq Muhammadun, Bupati Pati Haryanto, dan Wapemred Suara Merdeka Triyanto Triwikromo seusai pembukaan Gerakan Santri Menulis, Sarasehan Jurnalistik, Sabtu (26/5). (51)

DORONGAN untuk lebih memberdayakan kalangan santri dalam bidang kepenulisan perlu diperluas dan diintensifkan. Karena kemampuan menulis yang baik dan benar serta kreatif memiliki manfaat besar bagi santri secara pribadi maupun pesantren dan daerahnya.

”Penulis kaliber dunia berawal dari bawah. Kami mengapresiasi upaya membekali santri dengan kemampuan menulis.

Ini sangat bermanfaat dan syukur bisa lebih diperbanyak pesantren yang dijadikan tempat sarasehan jurnalistik ini,” ujar Bupati Pati Haryanto saat membuka Gerakan Santri Menulis (GSM), Sarasehan Jurnalistik Ramadan 2018 di Pondok Pesantren Manba’ul Ulum Desa Pakis, Kecamatan Tayu, Pati, Sabtu (26/5).

Kegiatan diikuti santri Manba’ul Ulum dan sejumlah mahasiswa Universitas Terbuka (UT). Bupati yang didampingi Kabag Humas Setda Pati Rasiman mengaku adem berada di lingkungan pesantren.

Pasalnya, di lembaga pendidikan keagamaan itu sarat muatan teladan yang menjunjung tinggi aturan agama. Secara khusus, Bupati menyampaikan jika dirinya kerap menyimak karya tulis pengasuh Pesantren Manba’ul Ulum KH Muhammad Aniq Muhammadun.

Menurutnya, jika semakin banyak santri yang memiliki kemampuan menulis, maka dapat berperan menangkal hoaks. Sebab, belakangan ini bermunculan kelompok-kelompok yang sengaja menebar hoaks, ujaran kebencian, bahkan fitnah dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi.

Dikatakan, santri memiliki potensi besar dalam menulis, terutama konten keagamaan yang mencerahkan. Mengingat aktivitas keseharian mereka adalah membaca dan menulis. Selain itu, santri yang sarat dengan bekal ilmu agama juga dapat berdakwah melalui tulisan.

Ruh Menulis

Wakil Pemimpin Redaksi Suara Merdeka Triyanto Triwikromo menyatakan, Gerakan Santri Menulis merupakan program lama. Program Harian Suara Merdeka yang digelar setiap Ramadan itu telah berlangsung 24 tahun. ”GSM memiliki maksud besar, yakni mengembalikan ruh menulis di pesantren.

Telah banyak karya besar lahir dari dunia pesantren,” katanya. Dia menyebut, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Mustofa Bisri (Gus Mus), dan KH MASahal Mahfudh sebagai tokoh bangsa dari kalangan pesantren yang melahirkan karya tulisan besar.

”Gus Dur selain dikenal sebagai penulis dunia Islam dan pesantren, juga menulis karya humanis, spiritualistik, humor, hingga sepak bola. Adapun Gus Mus sempat mendapat penghargaan sastra Asia Tenggara. Kiai Sahal juga dikenal luas melahirkan karya seputar fikih,” paparnya.

Dalam kesempatan itu, tim Suara Merdeka yang memberi bekal penulisan santri, terdiri atas Saroni Asikin (Redaktur Pelaksana), Mohammad Saronji (Staf Redaksi), Agus Fathudin (Kadesk Banyumas), Imam Nuryanto (Kadesk Muria), dan Muhammadun Sanomae (Kabiro Muria).

Dalam kesempatan itu, sejumlah pihak yang mendukung GSM juga menyampaikan paparan. Mereka antara lain, Sumarno (Universitas Terbuka), Fikri (Unissula), dan Kepala Kantor Daerah Telekomunikasi (Kakandatel) Pati Mungkas Setyabadi.

Mungkas menjelaskan, santri dapat berperan penting dalam dakwah di media sosial pada era kemajuan teknologi informasi. Telkom sebagai penyedia jasa jaringan internet memfasilitasi kemudahan tersebut. (M Noor Efendi-51)


Berita Terkait
Loading...
Komentar