SANTRI MENULIS

Tradisi Menulis di Pesantren Dihidupkan Lagi

SM/ M Abdul Rohman : BERSAMA BUPATI : Para santri berfoto bersama dengan Bupati Wonosobo Eko Purnomo, Wapemred Suara Merdeka Triyanto Triwikromo, Redaktur Senior Hendro Basuki, Redaktur Biro Kedu Arwan Pursidi dan Kepala Biro Kedu Edy Punomo usai pembukaan Gerakan Santri Menulis, Gerakan Jurnalistik Ramadan 2018 di Pondok Pesantren Roudlotuth Tholibin Dusun Jawar Desa Blederan Kecamatan Mojotengah, Wonosobo, Rabu (23/5).(23)
SM/ M Abdul Rohman : BERSAMA BUPATI : Para santri berfoto bersama dengan Bupati Wonosobo Eko Purnomo, Wapemred Suara Merdeka Triyanto Triwikromo, Redaktur Senior Hendro Basuki, Redaktur Biro Kedu Arwan Pursidi dan Kepala Biro Kedu Edy Punomo usai pembukaan Gerakan Santri Menulis, Gerakan Jurnalistik Ramadan 2018 di Pondok Pesantren Roudlotuth Tholibin Dusun Jawar Desa Blederan Kecamatan Mojotengah, Wonosobo, Rabu (23/5).(23)

WONOSOBO - Pesantren di wilayah Wonosobo diminta terus menghidupkan tradisi menulis kepada para santrinya. Pesantren juga harus bisa mewujudkan manusia yang beriman, bertaqwa, berilmu, dan beramal, serta menjadi manusia modern yang peka terhadap realitas sosial kekinian.

Penerapan keilmuan keagamaan yang diperoleh harus bisa diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat. Permintaan itu disampaikan Bupati Wonosobo Eko Purnomo saat membuka Program Gerakan Santri Menulis, Gerakan Jurnalistik Ramadan 2018, yang digagas Harian Suara Merdeka, di Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Roudlotuth Tholibin di Dusun Jawar Desa Blederan Kecamatan Mojotengah, Wonosobo, Rabu (23/5).

Kegiatan tersebut juga dihadiri Kepala Kantor Kementerian Agama Wonosobo, Muhamad Thobiq. Sarasehan jurnalistik Ramadan tersebut diikuti sekitar seratus santri dari sejumlah pondok pesantren di wilayah Kecamatan Mojotengah.

Dalam kesempatan itu, hadir Wakil Pemimpin Redaksi Suara Merdeka Triyanto Triwikromo, Redaktur Senior Hendro Basuki, Redaktur Biro Kedu Arwan Pursidi dan Kepala Biro Kedu Edy Punomo, sebagai pemateri sarasehan.

Menurut Eko, Islam hadir sebagai pemberi rahmat kepada seluruh alam. Kehadirannya bukan saja dirasakan kaum muslimin saja, tetapi juga seluruh umat manusia, bahkan makhluk lain secara keseluruhan.

Dalam perkembangan zaman, nilai-nilai luhur Islam semakin terpinggirkan oleh berbagai perilaku umat manusia yang cenderung jauh dari tuntunan syariat Islam. ”Islam harus berbenah diri, dengan cara membentengi diri dengan kualitas keimanan dan ketaqwaan yang tangguh, mengutamakan persatuan dan kesatuan umat melalui penanaman nilai-nilai luhur Islam pada setiap sendi kehidupan. Alangkah indah jika upaya memperkuat eksistensi umat Islam pada tataran global didukung adanya ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek),” beber dia.

Peranan Penting

Pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan non-formal mempunyai peranan sangat penting dalam mengatasi permasalahan tersebut. Utamanya untuk menganulir pandangan masyarakat yang selama ini memandang sebelah mata terhadap pesantren. Saat ini, pesantren diidentikan sebagai lembaga yang hanya mengurusi soal akhirat, namun kurang diimbangi aspek duniawi. Padahal, sejak kehadirannya pada masa kejayaan Kerajaan Islam Nusantara, pondok pesantren telah mampu menempatkan diri sebagai komunitas peradaban. Selain sebagai tempat pembinaan moral-spiritual, juga kesalehan seseorang dan pembelajaran ilmu agama Islam.

Pesantren yang berakar pada masyarakat diharapkan mampu menjadi kekuatan tersendiri, membangkitkan semangat meraih kemajuan. Dengan itu diharapkan, kehidupan masyarakat di Wonosobo semakin sejahtera dan memiliki karakter keislaman dan moralitas yang baik.

Dengan belajar jurnalistik, diharapkan para santri mampu beradaptasi menghadapi modernisasi serta menanggapi dampak-dampak secara terbuka dan kritis. ”Pesantren memiliki ciri khas kuat pada jiwa masyarakatnya, serta dasar keagamaan dan tradisi,” tuturnya.

Diharapkan, pesantren menjadi kekuatan resistensi terhadap pengaruh budaya luar, sebagai benteng nilai-nilai dasar di masyarakat terhadap intervensi budaya asing. Selain itu, pesantren harus mampu menghadapi permasalahan sosial dan era globalisasi yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi untuk mewujudkan pembangunan di segala bidang. Eko juga mengharapkan, dengan sarasehan jurnalistik Ramadan, Gerakan Santri Menulis mampu menjadi sarana memberikan pemahaman tentang jurnalistik kepada para santri. Semoga nantinya akan muncul generasi masa depan yang mampu memberikan informasi yang benar, mampu memacu para santri untuk membudayakan menulis, sekaligus menjadikan budaya menulis sebagai media dakwah,” harapnya.

Sementara itu, Wapemred Triyanto mengharapkan para santri harus terus mengasah kreatifitasnya dalam dunia tulis menulis. Pasalnya banyak tokoh penting di Indonesia, lahir dari kalangan pesantren. Selain menduduki jabatan penting, banyak jebolan pesantren mampu melahirkan karya-karya tulis besar, seperti halnya Gusdur, Gusmus dan lainnya. (mar-23)


Baca Juga
Loading...
Komentar