Bisa Jadi Penulis Dunia

WONOSOBO - Kurang lebih 100 santri Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin dan perwakilan santri dari ponpes di Wonosobo Rabu (23/5) pagi sumringah. Bukan karena libur namun mendapatkan suguhan beragam materi kepenulisan.

Sekilas membuat berita, menulis puisi atau tentang bagaimana menuangkan ide melalui cerita pendek. Salah satu modalnya adalah disiplin dalam membaca dan menulis semampunya.

Soal kedisiplinan santri di Wonosobo sudah cukup bekal. Hal itu bertujuan menanamkan sikap disiplin pada diri para santri terutama dalam menjaga ide-ide segar yang muncul setiap saat.

”Santri di sini memiliki potensi handal menulis. Semoga bisa jadi penulis kelas dunia,” kata Wapemred Triyanto Triwikromo, dalam sambutan untuk membakar semangat para santri. Jika santri menulis, imbuhnya, dengan pemahaman utuh keagamannya sudah barang tentu mampu mewarnai dunia.

Apa saja yang tertuang adalah ekspresi dari santri menjadi sangat berharga untuk dibagi kepada khayalak luas. Media yang hari ini tanpa jarak ekspresi-ekspresi santri diyakini tersaji tanpa batas.

Di aula Pondok Pesantren Roudlotuth Tholibin besutan Kiai Muhammad Nur Yasin ini ratusan santri semangat menimba ilmu pada bulan puasa dan di waktu seharusnya mereka berlibur. Bagi mereka, ilmu jurnalistik masih awam untuk dicerna karena sebelumnya tak ada kurikulum serupa di pondok pesantren.

Totalitas dan Kedisiplinan

Dari sekian peserta, hanya segelitintir dari mereka yang mengaku pernah menulis puisi. Namun sebagian besar dari mereka sudah rajin membaca koran. Sedikit bekal tersebut kemudian menjadi pemantik diskusi oleh salah seorang pembicara sarasehan, Arwan.

Anggota Desk Kedu-DIY ini berapi-api mengajak santri memahami berbagai jenis istilah jurnalisme berikut produk berita serta foto-foto menarik yang seharusnya diproduksi. ”Jika dari sisi karya foto saja sudah menarik tentu mendorong orang untuk membaca lebih seksama,” katanya.

Totalitas dan kedisiplinan dalam menjaga ritme berkarya juga menjadi salah satu modal yang menurut Arwan harus dikuasai para santri. Dia membuka ruang bagi santri terutama santri putri untuk berdialog dan saling tukar pikiran.

Pertanyaan mendasar seperti bagaimana memulai menulis dan mencari ideide segar menjadi bahan yang didiskusikan kurang lebih selama 45 menit. Pada penghujung acara, kepala biro Kedu/DIY Edy Purnomo menyampaikan materinya kemudian ditutup oleh anggota desk Minggu Sasi Pujiati. Diskusi kemudian terhenti berbarengan dengan tabuh beduk tanda berbuka puasa.(H67-23)


Baca Juga
Loading...
Komentar