Jurnalistik Ramadan di Ponpes Darussalam

Ingin Jadikan Rutinitas Santri

SM/Ranin Agung  -  FOTO BERSAMA : Para santri berfoto bersama Bupati Semarang, Mundjirin, Pendiri Pondok Pesantren Darussalam, Gebugan, KH Murodi, dan pemateri yang hadir dalam Gerakan Santri Menulis di Pondok Pesantren Darussalam, Gebugan, Bergas, Kabupaten Semarang, Selasa (22/5). (23)
SM/Ranin Agung - FOTO BERSAMA : Para santri berfoto bersama Bupati Semarang, Mundjirin, Pendiri Pondok Pesantren Darussalam, Gebugan, KH Murodi, dan pemateri yang hadir dalam Gerakan Santri Menulis di Pondok Pesantren Darussalam, Gebugan, Bergas, Kabupaten Semarang, Selasa (22/5). (23)

BERGAS - Program Gerakan Santri Menulis yang digagas Harian Suara Merdeka mendapat sambutan positif dari Pendiri sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam, Gebugan, Bergas, Kabupaten Semarang, KH Murodi.

Pada pelaksanaan putaran kedua tahun ini, ia berpesan apa yang disampaikan sejumlah pemateri harus benar-benar diperhatikan.

”Aja nganti dadi santri OTW, aja takon wae. Maka santri jangan ngantuk, karena materi yang disampaikan sangat berguna,” katanya ketika memberikan sambutan, Selasa (22/5) siang.

KH Murodi menyebutkan, materi yang dikemas panitia sangat beragam. Mulai materi jurnalistik tentang menulis berita dan artikel, tentang perguruan tinggi, hingga materi tentang lingkungan yakni cara membuat ecobricks.

Dengan demikian, dia berharap program rutin ini harus berlanjut. Melalui Gerakan Santri Menulis, KH Murodi optimistis para santri akan bertambah pengalaman. ”In syaa Allah bisa berkembang pesat, membawa berkah dan bermanfaat,” tandasnya.

Bupati Semarang, Mundjirin usai membuka kegiatan menyebutkan, peran Harian Suara Merdeka dalam memberikan pemahaman tentang bagaimana menulis berita dan artikel perlu mendapat apresiasi khusus.

Tahun ini, dari catatannya Gerakan Santri Menulis sudah memasuki tahun ke-24. Dengan kata lain, program ini sudah lama dan sampai sekarang masih eksis.

”Sudah berjalan lama sekali, sudah bergilir ke pondok pesantren. Belajar menulis itu gampang ning ya angel, kok angel merga akeh sik ora kendhel lan akeh sik ora wani,” ujarnya.

Berbicara dengan kecakapan seseorang dalam menulis artikel maupun menulis berita, lanjutnya, tentu sebelumnya harus paham standar prosedur menulis. Prosedur yang dimaksud, setiap saat bisa berubah.

Sejalan dengan itu, Bupati Mundjirin berpesan kepada para santri untuk tetap fokus dalam belajar termasuk belajar menulis. ”Dahulu hanya ada warung internet, sekarang cukup menggunakan telepon selular. Meski mudah, namun tetap harus sesuai kaidah,” terangnya.

Berbagi Pengalaman

Ratusan santri yang datang mengikuti Program Gerakan Santri Menulis di Pondok Pesantren Darussalam, oleh tim redaksi Harian Suara Merdeka kemarin diberikan pemahaman tentang menulis artikel dan berita.

Materi tersebut disampaikan oleh Koordinator Liputan Harian Suara Merdeka, Nugroho DS, Kepala Desk Semarang Metro Aris Mulyawan, dan Redaktur Fokus Jateng Harian Suara Merdeka, Rony Yuwono.

Sebagai materi tambahan, kemarin juga disampaikan bagaimana menulis di media online oleh Pimpinan Redaksi Suara Merdeka Cyber, Iwan Kelana.

Wapemred Harian Suara Merdeka Agus Toto Widyatmoko menuturkan, Program Gerakan Santri Menulis merupakan sarana silaturahmi melibatkan pondok pesantren dan pemangku kepentingan di kabupaten/ kota di Provinsi Jawa Tengah.

”Kami ingin berbagi pengalaman apa yang sehari-hari kami geluti di dunia tulis-menulis,” tuturnya. Mengapa pemahaman dunia tulis-menulis ini penting? Agus Toto menjabarkan, karena dewasa ini banyak informasi yang menyesatkan. Belum lagi ujaran kebencian yang memecah belah persatuan.

”Kita semua akan belajar bersama menulis berita sesuai kaidah jurnalistik, prinsipnya proses verifikasi tulisan harus dikedepankan dalam menulis berita. Jangan sampai menjadi viral negatif,” kata Agus Toto. (H86-23)


Berita Terkait
Loading...
Komentar