TAJUK RENCANA

Kita Berduka, Kita Bersama

Terkejut. Sedih. Tangis. Pilu. Kita semua merasa perih mendengar berita tentang pengeboman tiga gereja di Surabaya Minggu (13/5) pagi. Sederet pertanyaan muncul di kepala. Tetapi sedetik kemudian, kendati rasa terpukul itu masih tersisa, kitapun harus segera menegakkan kepala mendaras doa, meneguhkan harapan, dan membuang rasa takut. Doa kita untuk para korban ledakan bom itu, dan tekad kita bersama untuk tidak tinggal diam melawan kekerasan.

Setelah tragedi kerusuhan narapidana teroris di tahanan Mako Brimob Jakarta dua hari berselang, yang disusul dengan beberapa serangan individual, serangkaian tiga ledakan bom di Surabaya menegaskan lagi peringatan yang sudah berulang kali disampaikan bahwa terorisme belum mati. Penyelidikan dan penelitian tentang akar masalah terorisme menunjukkan bahwa persoalan terorisme sangat terkait dengan penyebaran ideologi kekerasan lintas generasi.

Persoalannnya lagi, ideologi kekerasan itu tidak hanya yang tertanam pada pelaku teror di lapangan, yang melaksanakan operasi-operasi kekerasan baik secara berkelompok ataupun secara individual. Di luar pelaku, terdapat cukup banyak orang yang pada tingkat tertentu membenarkan tindak kekerasan. Hal itu sangat terlihat dari reaksi warga setelah peristiwa Surabaya. Masih saja bermunculan komentar tidak simpatik, soal setingan, skenario, dan semacamnya.

Kenyataan ini tidak dapat dipandang ringan. Ini bukan soal kebebasan berpendapat atau kebebasan berekspresi. Ini merupakan persoalan sikap dan moralitas. Sikap dan moralitas itu adalah oksigen bagi para penganut ideologi kekerasan, yang turut serta membuat para pelaku dan penganut ideologi kekerasan masih mampu bergerak. Pembiaran kecil saja dari lingkungan terkecil sudah cukup menjadi celah bagi mereka untuk bergerak dan bergerilya.

Kita telah banyak belajar dari sekian kali luka akibat tragedi-tragedi kekerasan. Pengalaman itu seyogyianya memampukan kita sebagai bangsa untuk bersikap bijaksana menghadapi persoalan serius ini. Dapat dikatakan, Indonesia dalam situasi genting karena para penganut ideologi kekerasan itu sudah tersebar sedemikian rupa. Haruskah negara menerapkan operasi intelijen secara masif dan dengan demikian mengontrol kehidupan warganya sedemikian rupa?

Tentu tidak harus demikian. Negara memang harus kuat dan mampu menjamin keamanan warga. Namun, masyarakat pun juga harus kuat. Masyarakat yang kuat ditandai dengan kemampuan warga untuk tidak memberi celah penyebaran paham atau diskursus yang mendukung terorisme atau ideologi kekerasan. Peristiwa teror di Surabaya tidak menyurutkan bangsa Indonesia untuk selalu meneguhkan semangat kemanusiaan. Kita tidak boleh kalah dengan terorisme.


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar