TAJUK RENCANA

Demokrasi, Jalan Untuk Perubahan

Apa yang terjadi pada pemilihan umum di Malaysia tanggal 9 Mei 2018 lalu benar benar mengejutkan dan memberikan pelajaran penting tentang demokrasi. Demokrasi adalah jalan untuk menuju perubahan. Tanpa demokrasi tak akan ada perubahan. Pelajaran kedua, dalam politik memang tak pernah dikenal musuh atau kawan abadi. Kepentinganlah yang bisa membuat aktor - aktor politik dalam satu barisan atau saling berhadap hadapan. Semua sah sah saja asalkan pada akhirnya bermuara pada kepentingan rakyat.

Untuk pertama kalinya setelah enam dekade berkuasa Partai UMNO kalah dalam pemilu dan tidak lagi berkuasa. Ini juga pertama kali sejak negara itu didirikan 61 tahun lalu. Demokrasilah yang bisa mendorong perubahan dan itu berarti jalan damai ke arah reformasi. Bukan masanya lagi dengan jalan kudeta atau senjata. Artinya rakyatlah yang berkuasa lewat pemberian suara di bilik suara. Dan itu yang akan membawa perubahan ke depan. Ada harapan baru setelah melihat perjalanan selama lima tahun terakhir.

Arus perubahan makin kuat karena beberapa hal. Pemerintahan Perdana Menteri Najib Razak dan koalisi Barisan Nasional harus menelan pil pahit karena kehilangan kepercayaan dari rakyatnya terutama kelompok pemilih muda. Ada beberapa isu penting yang digarap kelompok oposisi untuk menggaet suara. Seperti tudingan mega korupsi dan kecurangan, kebijakan pajak yang memberatkan hingga keberpihakan kepada investasi China yang menurunkan dukungan kelompok pemilih Melayu.

Yang menarik dari sana adalah belum bergantinya aktor aktor politik sehingga bisa disimpulkan bahwa yang lebih diutamakan bukan siapa melainkan apa. Ini lebih rasional dan tidak terbelenggu pada persoalan identitas. Kebijakan pemerintah di satu sisi dan perilaku korup serta abuse of power di sisi yang lain adalah sebagai faktor pemicu. Koalisi oposisi Pakatan Harapan yang menang pada pemilu kali ini dipimpin Mahathir Mohamad yang pernah berkuasa 22 tahun dan kini telah berusia 92 tahun.

Yang juga tidak kalah menarik, kini ia berada satu kubu dengan Partai Keadilan Rakyat yang dipimpin Wan Azizah yang juga istri Anwar Ibrahim. Kita tahu Anwar Ibrahim adalah tokoh politik muda yang dipenjarakan oleh Mahathir atas tuduhan sodomi. Kini mereka bersatu untuk menggulingkan Najib Razak yang tidak lain adalah tokoh yang dibesarkan oleh Mahathir dan menjadi wakil perdana menteri. Maka benarlah apa yang dikatakan tadi bukan siapa tetapi apa yang diperbuat. Tidak bicara orang melainkan kebijakan.

Demokrasi Malaysia belum berumur lama tapi telah menemukan kedewasaan. Pemimpin yang dinilai korup harus diturunkan dan diproses hukum. Kini Najib Razak bukan saja dicekal ke luar negeri tetapi juga harus siap siap duduk di kursi terdakwa. Pelajaran demokrasi dari Malaysia benar benar nyata bahwa pemimpin yang diberikan amanah haruslah mampu menjalankan secara bertanggung jawab. Menjauhkan kepentingan pribadi dan mengutamakan kepentingan rakyat sebagai pemegang kedaulatan.


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar