Bimanesh: Kecelakaan Setya Novanto Rekayasa

JAKARTA - Terdakwa kasus merintangi penyidikan kasus E-KTP dr Bimanesh Sutarjo menyebut, kecelakaan mobil yang ditumpangi Setya Novanto (Setnov) merupakan rekayasa.

Alasan Bimanesh, luka di tubuh Setnov tidak sesuai dengan kejadian kecelakaan. ''Nggak mungkinlah kecelakaan ini terjadi bukan direkayasa. Saya katakan bahwa saya periksa pasien. Cedera pasien tidak sesuai dengan sebuah kecelakaan,'' kata Bimanesh kepada Fredrich Yunadi yang bersaksi dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Jumat (4/5).

Dia menyatakan kejanggalan itu pada lecet yang diderita Setnov. Menurutnya, jika berdasar laporan polisi bahwa kaca mobil sebelah kiri yang ditumpangi mantan Ketua DPR itu pecah, kepala Setnov juga bisa pecah. ''Laporan polisi menyatakan kaca belakang kiri pecah, kalau pecah pasti kepala juga pecah. Saya sudah lihat kejanggalan ketika malam hari saya melihat pasien. Memang ada hipertensi, tapi pas diantar karena kecelakaan kendaraan bermotor, saya lihat ini tidak mungkin,'' ungkapnya.

Atas luka Setnov, Bimanesh mengaku membuat sebuah visum kecelakaan mobil di Jalan Permata Hijau, Jakarta. Jika visum luka dengan lokasi kecelakaan dicocokkan, bisa diketahui kebenarannya. ''Maaf Yang Mulia, visum itu suatu petunjuk yang saya berikan untuk polisi. Kalau penyidikan itu benar, itu bisa ambil kesimpulan dari apa yang saya buat analisisnya.

Mencocokkan di TKP, dari pasien seperti itu apa iya? Makanya, saya setuju dengan pengacara saya, bahwa betul ini suatu rekayasa, bukan kecelakaan. Saya harus objektif, saya dokter, bukan lawyer,'' tandasnya.

Arahkan Ajudan

Terkait kecelakaan itu, Fredrich Yunadi diduga mengarahkan ajudan Setnov, AKP Reza Pahlevi untuk membawa eks Ketua DPR ke RS Medika Permata Hijau. Saat itu, Novanto mengalami kecelakaan mobil di Jalan Permata Hijau, Jakarta.

Bimanesh pun meminta majelis hakim membacakan berita acara pemeriksaan (BAP) Fredrich. Dalam BAP, Fredrich meminta Reza membawa Novanto ke RS Medika Permata Hijau. ''Dalam BAP saya mengatakan kepada ajudan AKP Reza Pahlevi, bapak dibawa ke RS terdekat RS Permata Hijau jangan rumah sakit pertamina atau yang lainnya, apakah ini betul,'' tanya Hakim Ketua Mahfudin.

Fredrich menjelaskan bahwa tidak pernah menyatakan seperti dalam BAP tersebut. Fredrich pun meralat keterangan dalam BAP itu. ''Ada kesalahan pak. Saya ralat pak. Seingat saya, tanya sama Reza saja dikonfrontir. Kalau betul BAP demikian, tidak mungkin saya ngomong begitu,'' ujar Fredrich.

Dia mengaku mengetahui Setnov kecelakaan melalui Reza Pahlevi. Setnov dikabarkan kecelakaan mobil menabrak tiang di Jalan Permata Hijau menuju kantor Metro TV. Hakim pun merasa heran dengan pernyataan Fredrich yang meralat BAP. Menurut hakim, Fredrich memberikan tanda tangan dalam BAPitu. ''Ini ada tanda tangan saudara. Sebelum tandatangan apakah Anda membaca?'' kata hakim.

Di sisi lain, jaksa KPK keberatan dengan gaya bicara Fredrich Yunadi dalam persidangan. ''Majelis hakim, kami JPU keberatan dengan saksi selama persidangan ada ucapan situ, you dan idiot,'' ujar jaksa KPK M Takdir.

Jaksa meminta majelis hakim agar keberatan yang diajukan menjadi pertimbangan persidangan perkara. Hakim Ketua Mahfudin mengaku sudah menegur Fredrich Yunadi. Majelis hakim meminta Fredrich menjaga sikap sopan santun selama persidangan. ''Sudah kami peringati berkali-kali. Saksi tolong ucapan dijaga dan emosi juga,'' kata hakim. (D3,dtc-41)


Loading...
Komentar