Keluarga Cendana Digugat di Pengadilan

Menjual Lahan Benda Cagar Budaya

SOLO - Salah satu keluarga Cendana, Sigit Harjojudanto harus menjalani proses hukum di Pengadilan Negeri (PN) Surakarta karena menjual lahan bekas Rumah Sakit (RS) Kadipolo di Jalan Dr Rajiman, Panularan, Laweyan, Solo yang masuk kategori benda cagar budaya (BCB).

Kasus penjualan lahan seluas 22.550 m2 yang di dalamnya terdapat BCB tersebut diketahui setelah ada sidang pertama di PN Surakarta, Rabu (2/5). Namun putra kedua mantan Presiden RI Soeharto itu tidak hadir dalam sidang. Hanya pihak penggugat yakni PT Sekar Wijaya selaku pembeli lahan dan perwakilan Badan Pertanahan Nasional (BPN) yang turut digugat hadir dalam sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Pandu Budiono SH.

Sigit sendiri digugat bersama keluarganya. Perkara ini bermula saat PT Wijaya pada 23 Desember 2016 membeli lahan tanah beserta bekas RS Kadipolo milik Sigit Harjojudanto di Jalan Dr Rajiman, Solo seharga Rp 248,05 miliar.

Diungkap Khairil Poloan SH selaku kuasa hukum PT Sekar Wijaya, pembelian tanah tersebut diawali dengan pembayaran uang muka sebesar Rp 21,5 miliar dan uang komisi Rp 3,36 miliar, sehingga total pembayaran baru sekitar Rp 25 miliar dari nilai jual Rp 248,05 miliar.

‘’Namun setelah klien kami hendak membangun lahan untuk perumahan dan mengurus Izin Mendirikan Bangunan (IMB), ada jawaban surat yang dikeluarkan Kemendikbud Balai Pelestarian Cagar Budaya Jateng Nomor 1999/E19/KB/2017 yang menyatakan bahwa lokasi tersebut merupakan BCB. Surat ini juga dipertegas oleh SK Wali Kota Surakarta Nomor 649/1- R/1/2013 Pengganti SK Wali Kota Surakarta Nomor 646/116/1/1997,’’tegas pengacara tersebut.

Karena bermasalah, lanjut Khairil, kliennya sudah mencoba menyelesaikan permasalahan dengan kekeluargaan, namun pihak Sigit bersikukuh tidak bersedia mengembalikan sejumlah uang yang telah dibayarkan dengan alasan terikat perjanjian.

PT Sekar Wijaya yang bergerak pada bidang pengembangan properti, tambah Khairil, merasa tertipu. Sebab sejak awal kliennya tidak diberitahu oleh Sigit dan keluarganya kalau tanah yang dijual merupakan salah satu BCB.

‘’Kalau tahu sejak awal, klien saya tentu tidak mau membeli lahan yang masuk kategori BCB,’’ungkapnya. Sehubungan pihak tergugat I, Sigit Harjojudanto serta Retnosari Widowati Harjojudanto, selaku anak Sigit, serta Haryo Putra Nugroho, sebagai cucu Sigit yang juga turut tergugat tidak hadir dalam sidang, Ketua Majelis Hakim, Pandu Budiono memerintah sidang dilanjutkan pada tanggal 4 Juni 2018.(G11-56)


Tirto.ID
Loading...
Komentar