Noktah Merah Pendidikan

Oleh M Saekan Muchith

TANGGAL 02 Mei ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Seluruh bangsa Indonesia diharapkan melakukan evaluasi diri (muhasabah) terhadap segala kekuranagan atau kesalahan yang telah dilakukan.

Pada hari itu juga seharusnya setiap manusia menyadari tentang pentingnya pendidikan yang pada hakikatnya memanusiakan manusia (humanisasi). Artinya dengan pendidikan, manusia memiliki kecerdasan personel, sosial dan spiritual sehingga melahirkan sikap dan perilaku santun, saling menghargai dan penuh tanggung jawab.

Setiap manusia tanpa kecuali pasti telah mengalami proses pendidikan. Dapat diibaratkan lamanya mengalami proses pendidikan sama dengan usia yang melekat dalam dirinya.

Suasana sosial terasa mencekam, menakutkan, bepergian merasa tidak nyaman, rekreasi ingin memperoleh kesenangan dan hiburan, dapatnya kesedihan, datang ke forum pengajian ingin memperoleh siraman rohani, malah dapatnya indoktrinasi yang menyudutkan. Car Free Day (CFD) yang seharusnya ajang relaksasi ujung ujungnya dapat intimidasi.

Lembaga pendidikan (sekolah/ madrasah) seharusnya sebagai lembaga untuk bereksrpesi dan berkreasi, malah menjadi lembaga intimidasi yang menyebabkan depresi.

Guru yang seharusnya membimbing berubah menjadi personal bullying, siswa semestinya sungkan kepada guru, yang terjadi sering melawan guru. Orang tua (masyarakat) yang idealnya mendukung pendidikan justru sering membuat repot pendidikan. Media sosial diciptakan untuk menumbuhkan mental positif dan nguri nguri peradaban, malah dimanfaatkan secara negatif yang akhirnya menghilangkan peradaban.

Salah Arah

Merujuk pada pengertian pendidikan seperti yang dirumuskan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, secara jelas dan eksplisit disebutkan bahwa pendidikan untuk mewujudkan kualitas manusia seutuhnya yang mengangkut kecerdasan /keterampilan intelektual (kognitif), kecerdasan /keterampilan kepribadian (afektif) dan kecerdasan/keterampilan fisik/mekanik (psikomotorik). Ketiga kecerdasan tersebut harus dioptimalkan secara seimbang, bukan sebuah pilihan atau alternatif.

United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menggariskan tentang arah pendidikan yang diramu dengan istilah empat pilar pendidikan; learnimg to know, learning to do, learning to be dan learning to life togather.

Learning to know memiliki pengertian bahwa pendidikan dan pembelajaran harus mampu mewujudkan manusia (lulusan) yang memiliki kecerdasan intelektual secara maksimal yang ditandai dengan 6 tingkatan (1) memiliki daya menghafal yang kuat, (2) memiliki kualitas pemahaman terhadap suatu teori atau fakta (3) memiliki kemampuan menerapkan pengetahuan yang dimiliki (4) mampu mengurai atau mengidentifikasi persoalan dengan pendekatan induktif (5) mampu menemukan solusi atas persoalan yang dihadapi (6) memiliki kemampuan menemukan kekurangan dan kelebihan yang terkandung di dalam suatu fakta atau teori.

Learning to do mengandung makna bahwa pendidikan dan pembelajaran harus mampu melahirkan profil manusia (lulusan) yang memiliki konsistensi tinggi antara apa yang dikatakan atau diucapkan dengan sikap dan perilaku sehari-hari.

Learning to be mengajarkan bahwa pendidikan dan pembelajaran harus mampu melahirkan kualifikasi manusia (lulusan) yang memiliki kepribadian secara personel (kesalahen individual) yaitu manusia yang jujur, disiplin, amanah, kreatif, cerdas, terampil dan bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.

Learning to life togather mengamanahkan bahwa pendidikan harus mampu mencetak kualitas manusia (lulusan) yang memiliki kualifikasi kesalehan sosial dalam artian memiliki kemampuan menyelesaikan problematika kehidupan yang dimiliki baik problematika yang berkaitan dengan sesama manusia maupun problematika yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan alam sekitar.

Pendidikan nasional bangsa Indonesia belum mampu menjalankan peran dan fungsinya secara menyeluruh dan maksimal. Peran pendidikan yang bisa dilakukan baru sebatas peran untuk melahirkan manusia (lulusan) yang memiliki kecerdasan secara intelektual saja. Memang, diakui atau tidak, profil lulusan pendidikan Indonesia mayoritas memiliki kecerdasan secara intelektual sangat tinggi. Tingginya kecerdasan intelektual belum diimbangi dengan kecerdasan kepribadian sehingga masih banyak meninggalkan noda-noda merah dalam kehidupan yang semakin hari makin memprihatinkan.

Para elite politik yang memiliki gelar intelektual sarjana, magister, doktor (Dr), dan juga guru besar (profesor) saat menghadapi musim politik ternyata ucapan, sikap dan perilakunya tidak ubahnya seperti anak Taman Kanak-Kanak (TK). Mengeluarkan pernyataan yang cenderung tendensius, menipulasi, mencaci maki kelompok yang dianggap tidak satu visi, menutupi dan membela kesalahan kelompok yang dianggap satu perjuangan. Membantai siapa pun yang dianggap tidak satu partai.

Ahli teknologi informasi bukan untuk menjadikan informasi semakin berisi, tetapi untuk menyebarkan hoaks akhirnya hanya untuk adu domba sani sini. Advokat, polisi, jaksa dan hakim bertugas menjaga dan menegakkan keadilan, tetapi masih banyak praktik jual beli hukum dan keadilan. Siapa punya uang itulah yang mendapat keadilan. Siapa yang punya kekuasaan itulah yang akan memenangkan proses peradilan.

Ahli agama seharusnya untuk memahamkan dan menegakkan nilai-nilai ajaran agama, tetapi dalam kenyataanya masih banyak ahli agama yang menjual beli dan rekayasa agama untuk kepentingan pragmatis belaka.

Ini semua, akibat salah arah pendidikan yang hanya berorienatsi pada kecerdasan intelektual (kognitif oriented) yang belum mampu mengoptimalkan kecerdasan sikap kepribadian (affective oriented). Selama pendidikan belum mampu menyeimbangkan antara kognitif dan afektif secara proporsional, maka selama itu pula noktah merah pendidikan tidak berkurang. (34)

Dr M Saekan Muchith, dosen IAIN Kudus, peneliti pada Tasamuh Indonesia Mengabdi (Time) Jawa Tengah


Berita Terkait
Loading...
Komentar