Karikaturis Suara Merdeka Djoko Susilo

Dua Kali Raih Penghargaan Adinegoro

SM/Aristya Kusuma Verdana : BERSAMAKARYA: Karikaturis Harian Suara Merdeka, Djoko Susilo bersama karya berjudul ''Anak-anak Terlena oleh Gadget'', yang memenangkan Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2019 kategori Jurnalistik Karikatur.(24)
SM/Aristya Kusuma Verdana : BERSAMAKARYA: Karikaturis Harian Suara Merdeka, Djoko Susilo bersama karya berjudul ''Anak-anak Terlena oleh Gadget'', yang memenangkan Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2019 kategori Jurnalistik Karikatur.(24)

Kartun editorial yang terkadang lucu, serius, tetapi sarat makna sering menghiasi Harian Suara Merdeka. Salah satu orang yang banyak menghadirkan karya-karya ini adalah Djoko Susilo.

MENGKRITIK, memuji, dan mendorong kinerja seseorang, lembaga, bahkan pemerintah, tidak melulu harus dilakukan lewat kata-kata keras dan lantang saat berdemo. Tidak melulu juga lewat kajian ilmiah. Banyak cara lain yang bisa dilakukan, termasuk lewat kartun editorial. Hal inilah yang dilakukan Djoko Susilo, karikaturis Harian Suara Merdeka. Banyak pihak pun yang tergerak oleh karyanya. Tidak hanya itu, karyanya bahkan diakui banyak pihak, termasuk lewat trofi Anugerah Jurnalistik Adinegoro. Bahkan penghargaan dia raih dua kali. Pada 2012, Djoko Susilo meraih penghargaan ini barkat karyanya berjudul ”Suntikan Moral”. Dalam karya yang menang dengan penilaian 255 juri itu, Djoko menggambarkan arti penting suntikan moral bagi kalangan legislatif lewat kartun editorial yang cukup menggigit. Karikatur itu berupa gambar Gedung MPR/DPR yang mendapat infus bertuliskan ”moral”.

Delapan tahun berselang, Djoko kembali meraih Anugerah Jurnalistik Adinegoro, penghargaan tertinggi dalam ajang bergengsi yang digelar oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional (HPN) pada 9 Februari 2020. PWI pun menyediakan hadiah Rp 50 juta untuk masing-masing pemenang di setiap kategori, trofi Anugerah Adinegoro 2019, dan piagam. Penghargaan itu akan diserahkan pada HPN 2020 yang digelar di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 7-10 Februari nanti. Dijadwalkan, acara ini didatangi Presiden Joko Widodo.

Karya Djoko yang menang kali ini berisi keprihatinan yang mendalam atas kondisi anak di Tanah Air. Karya itu membuat dewan juri yang terdiri atas Dolorosa Sinaga (pematung, dosen Institut Kesenian Jakarta), Gatot Eko Cahyono (karikaturis), dan Mohammad Nuh (Ketua Dewan Pers), menetapkan Djoko Susilo sebagai pemenang. Dia diputiskan memenangi kategori Jurnalistik Karikatur dalam sidang dewan juri pada 20 Desember 2019. Karya berjudul ”Anak-anak Terlena oleh Gadget” yang terbit pada 24 Juli 2019 di Harian Suara Merdeka itu, menyisihkan 80 karya lainnya. Keputusan ini dilampirkan dengan nomor 098- PGH/PP-PWI/2019. Penilaian berdasarkan topik, pesan, bahasa visual, komposisi, dan kualitas gambar. Karya Djoko harus bersaing dengan sejumlah karya karikatur kiriman para peserta yang dimuat di media massa Indonesia sejak 1 Desember 2018 hingga 30 November 2019.

Karya Cerdas

”Permasalahan yang diangkat menarik. Kegandrungannya generasi anak usia dini terhadap gawai, yang membuatnya menjadi seorang anak egois, antisosial kepada sesamanya. Maka cukup cerdas juga karikaturis mengangkat masalah tersebut,” kata Dewan Juri, Gatot. Menurut Gatot, unsur satir dalam karikatur karya Djoko Susilo digambarkan cukup sederhana, komunikatif, dan sangat menohok. Bagi anak usia dini dari kelas menengah ke atas, kecenderungan untuk memegang, bermain, dan menjadi penggila gawai itu adalah kenyataaan. ”Zaman internet sekarang ini, ada kalanya orang tua ikut bersalah. Salah satunya, sengaja memberikan gawai kepada anak usia dini tanpa berpikir dampak buruknya,” tuturnya. Djoko menggambarkan, satu anak yang miskin dan tidak mempunyai gawai sedang membawa bola kaki untuk mencari teman bermain. Namun tidak satu pun ada yan bisa diajak bermain bola. Anak-anak dari kelas menengah ke atas, tetap asyik dengan kesibukannya bermain gawai. ”Di situlah tampak satirnya. Tidak ada kegiatan bermain, bersosialisasi dengan kawan-kawan seusia akibat banyak yang menggilai gawai. Sangat satir dan ironis,” paparnya. Djoko Susilo pun mengungkapkan mengapa dia menjadikan anak-anak sebagai latar belakang karyanya. ”Saya membuat karya untuk Hari Anak Nasional kemarin. Hasil dari kegalauan saya tentang anak-anak saat ini yang terlalu bergantung pada gawai. Saya amati di kampung, sangat jarang anak-anak bermain di halaman. Mereka sibuk dengan gawai,” kata Djoko.

Anugerah Jurnalistik Adinegoro baginya, merupakan salah satu prestasi yang dinantikan karikaturis. Penghargaan ini menjadi penting untuk pemicu berkarya, bahwa penghargaan adalah bukti karya layak untuk dinikmati. ”Bisa menjadi ukuran penilaian diri, meskipun saya berkarya murni karena kondisi yang dilihat sehari-hari, bukan karena mengejar penghargaan tersebut,” bebernya. Saat ini, Djoko juga aktif di Kelompok Kartunis Kaliwungu (Kokkang) Kendal, Jawa Tengah dan menjadi salah satu pengurus Yayasan Pensil Emas Indonesia atau yang dikenal dengan nama Gold Pencil Indonesia. Dia juga menjadi pengajar ekstrakurikuler kartun di SMA 1 Kaliwungu, Kendal. ”Kami selalu melakukan pembelajaran bersama tentang kartun,” ujarnya.

Untuk diketahui, Anugerah Jurnalistik Adinegoro diberikan setiap tahun oleh PWI dalam rangka penyelenggaraan Hari Pers Nasional. Nama Anugerah Adinegoro mengabadikan nama tokoh pers nasional Djamaludin Adinegoro (14 Agustus 1904 - 8 Januari 1967). Adinegoro semasa muda mengenyam pendidikan jurnalistik di Munchen (Jerman) dan Amsterdam (Belanda), kemudian kembali ke Tanah Air pada tahun1931 serta menjadi Pemimpin Redaksi Pandji Poestaka dan kemudian Pemimpin Redaksi Pewarta Deli. Pada tahun 1951 Adinegoro ikut berperan dalam pengambilalihan pimpinan bekas kantor berita Belanda (Aneta), yang kemudian diubah menjadi Pers Biro Indonesia-Aneta (PIA). Presiden Soekarno pada 1962 menyatukan Kantor Berita Antara dan PIA menjadi Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara. Adinegoro hingga akhir hayatnya bekerja di lembaga ini. (Aristya Kusuma Verdana-41)


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar