Peran Wahyu Tak Besar pada Rapat Pleno

Kasus Dugaan Suap Komisioner KPU

JAKARTA - Eks Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan disebut tak banyak berperan dalam rapat pleno perihal pengajuan Harun Masiku sebagai anggota DPR melalui mekanisme pergantian antarwaktu (PAW). Hal itu diungkapkan dua komisioner yang diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi, kemarin. Komisioner KPU Viryan Aziz mengungkapkan, tidak ada peran yang luar biasa dari Wahyu selama rapat pleno perihal pengajuan Harun dalam PAWtersebut. ”Tidak ada, peran biasa saja. Kami sama-sama berpendapat tidak ada hal yang berbeda terkait dengan kasus tersebut. Jadi, semua anggota KPU RI berpendapat sama bahwa penggantian calon terpilih ataupun PAWtidak dapat dilaksanakan,” ujar Viryan. Ia juga mengaku Wahyu menyampaikan argumentasi yang sama selama rapat pleno bahwa PAW terhadap Harun Masiku itu tidak dapat dilaksanakan. ”Argumentasinya ya sama, tidak ada argumen yang berbeda bahwa hal tersebut bagi kami penyelenggara pemilu itu hal yang sudah lazim dan regulasinya sama sampai sekarang bahwa kalau terkait dengan pergantian antarwaktu itu prosesnya melalui DPR atau DPRD bukan dari partai langsung ke KPU,” kata dia.

Sementara Ketua KPU Arief Budiman juga dikonfirmasi soal suratsurat dari PDI Perjuangan perihal pengajuan Harun dalam PAWtersebut. ”Ketiga, terkait cara kami merespons dan menjawab surat-surat dari PDI Perjuangan terkait dengan perkara ini,” ungkap Arief. Dia menegaskan, Wahyu bersama komisioner KPU lainnya juga tidak berbeda pendapat selama rapat pleno bahwa PAWterhadap Harun Masiku itu tidak dapat dilaksanakan. ”Tidak ada, tidak ada. Pokoknya KPU telah mengambil putusan sebagaimana yang kami tuangkan dalam surat yang kami kirimkan sebagai jawaban itu. Siapa pun bisa mengajukan PAW tetapi pengajuan diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kami memproses sesuai ketentuan yang berlaku,” kata Arief. Dalam pemeriksaannya, ia juga mengaku sempat ditanya apakah dirinya turut menerima aliran uang terkait kasus suap tersebut. ”Tidak, cuma saya ditanya, Pak Arief menerima juga tidak? Ya saya bilang tidak lah,” ucap Arief. KPK kemarin memeriksa Viryan dan Arief sebagai saksi untuk tersangka tersangka Saeful (SAE) dari unsur swasta dalam penyidikan kasus suap terkait penetapan anggota DPR RI terpilih tahun 2019-2024.

Selain Saeful, KPK juga telah menetapkan tiga tersangka lainnya, yakni eks Komisioner KPU Wahyu Setiawan (WSE), mantan anggota Badan Pengawas Pemilu atau orang kepercayaan Wahyu, Agustiani Tio Fridelina (ATF), dan kader PDIP Harun Masiku (HAR) yang saat masih menjadi buronan. Arief mengaku dicecar 22 pertanyaan oleh aparat. ”Ada 22 pertanyaan yang diajukan pada saya. Pertama, terkait dengan profil saya, jabatan saya, tugas kewenangan, dan kewajiban saya,” kata Arief usai diperiksa di gedung KPK, Jakarta.(ant-56)


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar