Penyimpangan Seksual Tak Berkaitan dengan Orientasi Seksual

Oleh : Sofie Dwi Rifayani

Kasus Reynhard Sinaga setidaknya membuat publik melek soal kejahatan seksual. Sayangnya, banyak yang mengaitkan perilaku pria berusia 36 tahun itu dengan orientasi seksual yang dimilikinya. Benarkah perilaku Reynhard termasuk penyimpangan seksual?

Penyimpangan seksual adalah dorongan seksual yang berulang dan fantasi yang melibatkan objek yang tidak wajar dan atau dilakukan secara sepihak, pada situasi yang menyakitkan atau merendahkan. Demikian disampaikan Anita Susanti SPsi MPsi, psikolog. Psikolog Klinis itu mengungkapkan, peyimpangan seksual terdiri atas berbagai macam jenis, antara lain yang cukup sering dijumpai adalah eksibisionisme. Perilaku ini mengarah pada kesenangan mempertontonkan alat kelaminnya ke orang lain. Para eksibisionis melakukan penyimpangan tersebut semata untuk memenuhi kepuasan seksualnya. Demikian pula penyimpangan seksual jenis pedofilia. Pedofilia merupakan gangguan seksual berupa nafsu seksual terhadap remaja atau anak-anak di bawah usia 14 tahun. Selain itu, ada jenis penyimpangan seksual sadomasokis. Perilaku ini merujuk pada kepuasan seksual yang bisa didapat jika menyiksa (sado) atau disiksa (masokis) oleh pasangannya. Lantas, termasuk yang manakah perilaku Reynhard?

Menyoal Raynhard, ada penilaian dari ahli kejiwaan bahwa perilakunya tersebut mengarah pada kecenderungan psikopat. Menurut Anita, untuk mendiagnosis kecenderungan perilaku seseorang, termasuk psikopat, dibutuhkan serangkaian tes khusus. "Psikopat itu ciri-cirinya tidak bisa berempati,manipulatif. Dari karakteristiknya, Reynhard memang mengarah ke sana. Seperti diketahui, dia bisa tetap tenang saat menjalani persidangan, bahkan malah tertawa saat video kejahatannya diputar ulang" ucap Anita. Publik kemudian mengaitkan kejahatan seksual Reynhard dengan orientasi seksualnya, di mana ia mengaku gay. Atas keterkaitan itu, Anita tidak setuju. Untuk mengelompokkan orientasi seksual seseorang, para ahli mengacu pada rujukan tertentu. Salah satunya berpedoman pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) yang dipakai sebagai acuan di seluruh dunia.

Tiap beberapa periode sekali, poin-poin dalam DSM diperbaharui. Sebelumnya homoseksual masih dianggap sebagai gangguan jiwa, namun pada DSM III sampai pada DSM V yang sekarang dipakai sebagai acuan terbaru homoseksual tidak lagi dikategorikan sebagai gangguan jiwa. "Sementara itu, di Indonesia, para psikolog berpedoman pada Pedoman Praktis Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ), yang mana tidak mengelompokkan homoseksual sebagai gangguan preverensi seksual. Baik menurut DSM maupun PPDGJ, homoseksual tidak termasuk dalam gangguan seksual," tutur Anita.

Orientasi Seksual

Lalu, apa itu homoseksual? Homoseksual adalah satu dari empat jenis orientasi atau kecenderungan seksual. Kecenderungan tersebut tidak melulu pada faktor seksual, tapi juga emosi dan intimasi. Jenis orientasi seksual yang pertama adalah heteroseksual, yakni ketertarikan antara laki-laki dengan perempuan. Kedua, homoseksual, yang berarti ketertarikan dengan sesama jenis, baik itu penyuka sesama lelaki (gay) atau penyuka sesama perempuan (lesbian). Ketiga, ketertarikan pada laki-laki dan perempuan sekaligus atau yang disebut biseksual.Terakhir ialah aseksual atau kecenderungan untuk tidak menyukai laki-laki maupun perempuan. Atas penjelasan tersebut, dipastikan bahwa orientasi seksual sejatinya tidak memengaruhi perilaku seseorang. Sama halnya dengan kasus Raynhard. Lantaran ia mendeklarasikan diri sebagai gay, bukan berarti semua gay berperilaku seperti Raynhard. Kasus seperti Reynhard bisa dilakukan oleh siapapun, baik mereka yang homoseksual, heteroseksual, maupun biseksual.

Anita menyebut, ada banyak faktor yang bisa memengaruhi orientasi seksual seseorang. Di antaranya karena faktor hormonal atau karena pengaruh lingkungan. "Meski tidak bisa digeneralisir, orientasi seksual bisa pula dipengaruhi oleh pola asuh. Ambil contoh, ada orang tua yang mendidik anak perempuannya seperti laki-laki, begitu pula sebaliknya," jelas Anita. Pada beberapa kasus, Anita menambahkan, orientasi seksual dapat dipengaruhi oleh faktor kejadian di masa lampau. Misalnya pernah mengalami pelecehan seksual di masa kecil. Jika kondisi itu tidak segera ditangani, dampaknya akan terasa di kemudian hari. Dari faktor-faktor tersebut, Anita menyarankan para orang tua untuk membekali anak dengan pendidikan seks sejak dini. Setidaknya, anak usia lima tahun sudah diajarkan mengenai anggota tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh oleh orang lain. Pemahaman sederhana semacam itu nantinya akan membentuk perilaku si anak di masa depan.

Pada teori perilaku klasik, disebutkan bahwa masa remaja adalah masa penting yang tidak bisa disepelekan. Ada perubahan fisik dan hormonal yang terjadi di masa itu. Jika seorang remaja tidak memiliki pemahaman seks mendasar, bukan tidak mungkin ia tidak bisa menghadapinya dengan baik. "Ketika mulai merasakan respons seksual tapi tidak bisa menyalurkannya, bisa-bisa ia memuaskan diri dengan masturbasi atau onani. Nah, ketika perilaku itu dilakukan secara kontinyu, bukan tidak mungkin lama-kelamaan akan mengarahkan mereka ke penyimpangan seksual," tutup Anita.(49)


Berita Terkait
Komentar