Waspadai Penyakit Langganan saat Musim Hujan

Oleh : Sofie Dwi Rifayani

Ancaman penyakit memang tak kenal waktu. Namun, saat musim hujan seperti ini, ada beberapa jenis penyakit yang lebih menghantui. Apa saja?

Mengutip buku "Penyakit Infeksi di Indonesia & Solusi Kini dan Mendatang" serta "Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam", Dr Lutfi Aulia Safitri menerangkan ada dua jenis penyakit yang sering muncul saat musim hujan, yakni penyakit infeksi dan alergi.

Dari jenis penyakit infeksi, sudah bukan rahasia lagi bahwa influenza menduduki peringkat pertama. "Influenza atau sering dibilang flu paling sering muncul akibat cuaca yang tidak menentu. Penyakit ini kebanyakan menyerang individu yang daya tahan tubuhnya lemah.

Karena lemah, ia akan mudah tertular virus. Gejalanya berupa demam, pusing, bersin, pilek, maupun batuk," jelas Lutfi. Selain flu, penyakit nomor dua tersering ialah diare.

Penyakit ini ditandai dengan buang air besar (BAB) cair lebih dari lima kali dalam sehari, perut terasa melilit, dan dalam beberapa kasus pasien akan mual dan muntah. Untuk pertolongan pertama, penderita diare harus memperbanyak minum air putih agar tidak kekurangan cairan.

Kecuali itu, "Sebisa mungkin hindari pemberian obat-obatan yang ada di pasaran. Dan jika dalam 24 jam merasakan gejala diare, sebaiknya segera periksa ke dokter. Dokter akan meresepkan obat sesuai dengan kondisi diare tiap pasien," kata Lutfi.

Secara umum, diare terjadi karena penyebaran bakteri melalui makanan. Di musim hujan seperti sekarang, jumlah lalat sebagai salah satu pembawa bakteri bertambah banyak. Maka dari itu, usahakan memilih makanan yang benar-benar bersih agar tidak tercemari bakteri dari lalat.

Selain itu, penting untuk selalu cuci tangan sebelum makan. Makanan dan minuman pun harus dimasak hingga benar-benar matang.Setipe dengan diare, ada pula penyakit demam tifoid atau lebih dikenal sebagai tifus. Tifus juga terjadi akibat perkembangan bakteri salmonella pada makanan.

Penyakit ini punya gejala yang khas, yakni suhu tubuh akan meningkat saat malam dan bakal kembali ke suhu normal ketika pagi. "Saat tifus, yang diserang adalah saluran pencernaan. Jadi, selain demam, penderitanya akan mengalami mual, muntah, pusing, badan lemas, serta gangguan BAB. BAB-nya bisa berupa menceret atau malah tidak bisa BAB sama sekali," ujar Lutfi.

Demam Berkala

Lalu, yang tak kalah populer saat musim penghujan adalah demam berdarah dengue (DBD). Karena banyaknya genangan air akibat hujan, dipastikan jumlah nyamuk aedes aegypti juga meningkat. Akibatnya, risiko terjangkit DBD makin besar. Pasien yang mengalami penyakit ini akan merasakan demam.

Bedanya dengan gejala tifus, demam pada DBD berlangsung terus-menerus sepanjang hari selama kurang lebih tujuh hari. Hari ke-3 dan ke-4 biasanya demam turun. Barulah pada hari ke-6 dan ke-7 demam muncul lagi. "Sesuai namanya, gejala penyakit ini adalah demam yang disertai darah.

Darah itu muncul karena perdarahan yang bisa terjadi di mana saja. Efeknya bisa berupa mimisan, gusi berdarah, atau bintik-bintik merah pada tubuh," jelas Lutfi. Jika perdarahan terjadi di lambung, penderita DBD akan merasakan perih di ulu hati. Selain itu, feses akan berubah jadi hitam.

Dan yang pasti, karena terjadi "kebocoran" pembuluh darah, tekanan darah pasien akan turun sehingga timbul rasa pusing dan lemas. Untuk mencegah DBD, Lutfi mengingatkan pengaplikasian 3M, yaitu menguras, menutup penampungan air, serta mendaur ulang barang bekas.

Tak hanya itu, biasakan untuk tidak tidur di saat pagi hingga siang karena di waktu-waktu itulah nyamuk penyebab DBD beraksi. Mengurangi banyaknya baju yang digantung setelah dipakai juga dapat meminimalisir berkumpulnya nyamuk DBD. Di luar penyakit-penyakit itu, ada satu penyakit yang tidak kalah penting untuk diwaspadai, yaitu leptospirosis.

Penyakit itu terjadi akibat bakteri leptospira yang disebabkan oleh hewan pengerat seperti tikus, maupun hewan ternak misalnya sapi atau babi. yang paling banyak terjadi, leptospirosis akibat kencing tikus. Pada musim seperti ini dikhawatirkan kencing tersebut bercampur pada genangan-genangan air.

"Untuk pencegahan, kalau bepergian jangan lupa memakai alas kaki. Terlebih bagi orang yang di tubuhnya terdapat luka, sekecil apapun itu, harus lebih waspada. Sebab, bakteri kencing tikus bisa masuk dalam tubuh melalui luka tersebut," Lutfi menegaskan.

Seseorang yang terkena penyakit ini akan mengeluhkan demam, sakit betis, dan mata merah. Leptospirosis yang ditangani sejak dini bisa mengarah pada kesembuhan total. Sebaliknya, risiko jika terlambat diobati ialah kematian. "Penyebab kematiannya justru karena gagal ginjal.

Mula-mula bakteri itu akan menyebar melalui peredaran darah dan menyerang ginjal. Sesampainya di ginjal, bakteri tersebut akan menyerang dan menyebabkan gagal ginjal," jelas Lutfi. Seperti yang telah disampaikan Lutfi, selain penyakit karena infeksi, yang paling sering muncul saat musim hujan ialah penyakit akibat alergi.

Dua yang paling banyak terjadi ialah asma dan biduran (urtikaria). Keduanya termasuk kelompok penyakit turunan. Bukan rahasia lagi bahwa ciri khas gejala asma adalah sesak napas, terkadang napas berbunyi "ngikngik", serta batuk kering yang sering, tanpa disertai demam.

Adapun biduran terlihat dari rasa gatal dan benjol kemerahan hampir di seluruh tubuh. "Bagi yang alergi dingin, sebaiknya rutin mengenakan pakaian hangat saat berpergian, mandi dengan air hangat, juga membalur tubuh dengan minyak kayu putih.

Hindari pula kipas angin atau air conditioner (AC) agar tidak membuat penyakit itu kambuh," saran Lutfi. Adapun untuk mencegah penyakit karena infeksi, Lutfi menganjurkan untuk mengupayakan peningkatkan daya tahan tubuh. Antara lain dengan mengonsumsi makanan bergizi seperti buah dan sayur, serta konsisten minum delapan gelas air putih dalam sehari.

"Usahakan juga tidur malam yang cukup. Sebab di waktu tersebut sistem kekebalan tubuh sedang terbentuk. Selain itu, perbanyaklah olahraga. Berkegiatan fisik akan memicu keluarnya hormonhormon yang baik bagi daya tahan tubuh. Jikapun merasakan demam lebih dari tiga hari, segeralah periksa ke dokter," pungkas Lutfi. (49)