Ashwincarra, Pesawat Tanpa Awak Buatan Tim UGM

Berjaya meski Sempat Rusak Berat

CEK KESIAPAN : Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada (UGM) mengecek kesiapan pesawat Ashwincarra. (24)
CEK KESIAPAN : Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada (UGM) mengecek kesiapan pesawat Ashwincarra. (24)

Pesawat tanpa awak Ashwincarra buatan Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta unjuk kebolehan di langit Istanbul, Turki. Karya anak-anak muda tersebut tampil dalam ajang kompetisi robot terbang dunia yang diikuti 345 tim dan berhasil meraih posisi ketiga.

TIM Gamaforce terdiri atas beberapa mahasiswa Fakultas Teknik, MIPA, serta Sekolah Vokasi UGM. Mereka adalah Ariefa Yusabih, Fauni Ambarsari, Dwi Novarifanto, Baskara, Eko Putra Wijaya, serta Ery Setiawan.

Pengembangan dilakukan di bawah bimbingan Dr Andi Dharmawan SSi MCs dan Dani Adhipta SSi MT. Meskipun sempat mengalami insiden yang membuat mental tim nyaris drop, mereka bangkit dan bertekad menampilkan yang terbaik.

Ya, robot terbang rakitan mahasiswa UGM itu sempat rusak berat saat perlombaan pada ronde terbang ketiga. Ashwincarra kesulitan mendarat karena cuaca yang tidak bersahabat.

”Pesawat mengalami hard landing karena angin bertiup kencang sehingga mengakibatkan sayap rusak berat,” tutur Ketua Tim Gamaforce, Ariefa Yusabih.

Tak hanya kerusakaan saat ronde tiga, gangguan kembali dialami pada ronde keempat. Pesawat mengalami tabrakan di udara dengan pesawat tim lain. Akibatnya, lagi-lagi terjadi kerusakan cukup fatal, yakni sayap dan badan pesawat hancur.

Padahal tim hanya mendapat jatah waktu dua jam untuk melakukan perbaikan serta harus melalui technical inspection ulang untuk memastikan komponen pesawat telah sesuai dengan standar yang ditetapkan juri.

Dalam dua jam, Tim Gamaforce memasang ulang, memindahkan semua komponen elektronis ke badan pesawat cadangan, lalu memperbaiki sayap yang rusak. Kondisi tersebut benar-benar menguras tenaga dan pikiran, tetapi akhirnya selesai juga.

Lima Ronde

Ariefa menjelaskan, setiap tim diwajibkan mengikuti minimal lima ronde terbang. Timnya berhasil menyelesaikan lima ronde tersebut setelah melampaui berbagai rintangan. Pada babak final, Ashwincarra terbang bersama sembilan pesawat tim lain.

Setiap pesawat dituntut mengikuti dan mengunci lawan sekaligus harus bisa menghindar dari kuncian pesawat lainnya. Apabila pesawat yang diterbangkan dikunci pesawat lawan maka akan mendapatkan pengurangan poin.

”Tak mudah melakukan semua itu, ditambah area terbang tidak terlalu luas, hanya sekitar 300x500 meter, sehingga kemampuan kendali pilot dan performa pesawat sangat menentukan, terutama saat melakukan manuver menghindari kuncian,” paparnya.

Kerja keras mereka tak sia-sia. Ashwincarra yang merupakan satu-satunya perwakilan Indonesia akhirnya dinyatakan sebagai juara tiga.

Ashwincarra merupakan pesawat nirawak atau unmanned aerial vehicle (UAV) tipe fixed wing dengan kemampuan manuver tinggi yang mampu lepas landas, mendarat, menjelajah, kemudian mendeteksi, mengunci, dan mengikuti UAV lain secara manual dan mandiri menggunakan sistem kecerdasan buatan.

Berbobot 3,8 kilogram, pesawat ini memiliki kecepatan 150 kilometer/jam yang menjadikannya paling unggul dalam mengejar pesawat lawan maupun menghindar dari kemungkinan terkunci oleh pesawat lawan. Ashwincarra bisa terbang hingga 40 menit dengan jarak terbang 500 meter. (Agung PW-19)


Berita Terkait
Baca Juga
Komentar