Jalan Tol Diaudit Total

Kecelakaan di Cipali, Empat Warga Jateng Tewas

SM/Antara : AUDIT KESELAMATAN: Foto udara kendaraan yang melintas di Jalur Tol Cipularang, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Minggu (27/10) . Jalur tol tersebut termasuk salah satu yang diaudit keselamatannya karena rawan kecelakaan. (24)
SM/Antara : AUDIT KESELAMATAN: Foto udara kendaraan yang melintas di Jalur Tol Cipularang, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Minggu (27/10) . Jalur tol tersebut termasuk salah satu yang diaudit keselamatannya karena rawan kecelakaan. (24)

JAKARTA - Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengaudit keselamatan di seluruh jalan tol, terutama yang memiliki potensi kecelakaan tinggi.

”Kami sedang mengaudit keselamatan jalan tol secara menyeluruh,” tegas Kepala BPJTDanang Parikesit, kemarin. Danang mengakui kecelakaan itu terjadi karena sopir bus mengantuk sehingga masuk ke jalur berlawanan dan menabrak bus lain dari arah sebaliknya. Terkait ketiadaan dinding pemisah atau barrier di ruas Tol Cipali, Danang menyatakan bahwa struktur bangunan itu hanya untuk mengurangi fatalitas. ”Barrier bukan untuk mengurangi kecelakaan, melainkan untuk menekan tingkat fatalitas. Parit di median, kalau didesain bagus bisa memiliki efektivitas yang sama,” jelasnya. Pengamat kebijakan publik Agus Pambagio mengatakan, tarif jalan tol dipastikan terus naik dua tahun sekali, ada kecelakaan ataupun tidak. Kenaikan tarif antara lain didasarkan pada standar pelayanan minimal (SPM) yang ditetapkan pemerintah. Pihaknya pernah melakukan advokasi terkait tarif yang terus naik dan tuntutan perbaikan layanan. Namun, dia menyebut dukungan publik minim. Ketika itu tidak ada warga yang ikut bergerak. ”Satu-satunya cara ya boikot atau dijudicial review (uji materi). Pertanyaannya, siapa yang mau?” ujarnya. Kecelakaan di Tol Cipali melibatkan dua bus dari arah berlawanan, yakni bus Sinar Jaya B-7949-IS dan Arimbi B-7188- CGA. Bus Sinar Jaya dari arah Jakarta menyeberang ke jalur berlawanan dan menabrak bus Arimbi yang datang dari arah Cirebon. Hasil penyelidikan sementara oleh kepolisian, sopir Sinar Jaya diduga mengantuk. Kedua bus dinyatakan laik jalan. ”Diduga sopir Sinar Jaya kurang antisipasi sehingga kendaraan tidak terkendali, lalu menyeberang ke jalur berlawanan dan langsung menabrak bus Arimbi,” jelas Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Trunoyudho Wisnu Andiko.

Bus Sinar Jaya yang oleng ke kanan, imbuhnya, melewati parit pemisah jalan sebelum masuk ke jalur sebaliknya. Kebanyakan korban adalah penumpang bus Arimbi. Bus itu membawa banyak warga Pekalongan yang hendak pergi ke Jakarta. Tujuh korban tewas yakni Imam Syafi’i (27), warga Kampung Dusun 1 RT 02/02, Desa Boyo Telu, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan; Kuntarsih (37), warga Kampung Pantai Sari RT 02/01, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan; dan Salsis (24), warga Kampung Serut RT 01/06 Desa Sragi, Kecamatan Sragi, Kabupaten Pekalongan. Kemudian Aris Yunianto (37) asal Desa Purwoharjo RT 01/01 Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang, Warsidin (53), warga Jalan Madrasah RT 12/02 Kelurahan Gandaria Selatan, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan; Surta (61), penduduk Kampung Cijalit RT 05/02 Desa Cibungur, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Lebak, Banten; dan Khofifah (32), warga RT 05/03 Desa Tambak Selo Barat, Kecamatan Kedung Galar, Kabupaten Ngawi, Jatim. Dalam kejadian tersebut, sopir Sinar Jaya mengalami luka berat. Pengemudi bernama Sanudin bin Roibun (42), warga RT 05/03 Kampung Duren Sawit, Desa Kesuben, Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal itu menjalani perawatan bersama korban luka lainnya di RSUD Subang. Petugas masih menyelidiki musibah tersebut. Sejumlah saksi dimintai keterangan, termasuk sopir bus Arimbi, Rohman (42), warga Pandeglang. Kondisi jalan di tempat kejadian, jelas Trunoyudo, merupakan jalur lurus.

Perlu Pembatas

Dinas Perhubungan Jawa Barat menyatakan Jalan Tol Cipali harus memiliki pembatas atau barrier untuk mengantisipasi kecelakaan. ”Ya, harus ada pembatas dan harus diinvestasikan (oleh pengelola jalan tol),” kata Kepala Dinas Perhubungan Jawa Barat Hery Antasari. Hery mengatakan, usulan mengenai rekayasa jalan dan pemasangan pembatas di Tol Cipali sudah berkali-kali disampaikan pihaknya dalam berbagai kesempatan. ”Sudah disampaikan secara lisan, baik melalui media massa maupun jalur resmi. Agar dilakukan rekayasa teknis di media jalan supaya tidak terjadi kejadian serupa. Kami hanya mengimbau karena ini ranah BPJT,” ujarnya.

Dia menuturkan, karakteristik Jalan Tol Cipali berbeda dari tol lainnya. Permukaan Tol Cipali bergelombang dan jalurnya lurus. Hal tersebut berpotensi mengurangi konsentrasi pengemudi yang kelelahan. ”Karakter tol seperti ini harus dilengkapi fasilitas keselamatan jalan yang maksimal.” Lebih lanjut Hery mengatakan, berdasarkan pengecekan, kedua bus itu dinyatakan layak jalan. ”Kendaraannya layak jalan, baik sistem kemudi, rem, dan lainnya,” imbuh dia. Sementara itu, tujuh jenazah korban meninggal dunia sudah dibawa oleh keluarga masing-masing. Humas RSUD Subang Mamat mengatakan, seluruh jenazah diberangkatkan secara bersamaan. Sebagian korban luka dibolehkan pulang. ”Dari 25 pasien, hingga pukul 13.00 masih ada 11 yang kami tangani,” jelasnya. Dia menyebut pasien yang masih dirawat tersebut di antaranya mengalami luka berat seperti patah tulang, termasuk sopir Sinar Jaya. Kasat Lantas Polres Subang AKP Bambang Sumitro mengutarakan, penyelidikan terhadap sopir bus Sinar Jaya akan dilakukan setelah yang bersangkutan menjalani perawatan. (bn,dwi,ant-19)


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar